Langsung ke konten utama

Postingan

Skala, Pemuda Bertanduk

  Suatu hari, seorang pemuda terbangun dengan kepala yang sangat sakit. Ketika menyentuh kepalanya, ia terkejut—ada sebuah tanduk yang tumbuh di sana. Ia melihat ke cermin dan membayangkan apa yang akan dikatakan orang-orang jika melihatnya. ‘Apa itu di kepalanya?’ ‘Itu tanduk?’ ‘Aneh sekali.’ ‘Seperti monster!’ Pemuda itu merasa takut dan sedih mendengarnya, meski semuanya hanya ada dalam pikirannya. “Siapa aku sebenarnya?” gumamnya. Ia pun melarikan diri masuk ke dalam hutan, berharap bisa menjauh dari semuanya. “Semoga aku bukan monster… kenapa dunia jahat padaku?” katanya sambil berjalan. “Kalau benar aku monster… tolong selamatkan aku.” Tiba-tiba ia terpeleset dan jatuh. Cahaya terang muncul sehingga ia menutupi matanya. Ketika cahaya itu hilang, berdirilah seorang pemuda bersayap di depannya. “Tandukmu indah,” kata pemuda bersayap itu sambil mengulurkan tangan. Pemuda bertanduk itu mengangguk pelan dan berterima kasih. “Ayo ikut aku,” ajak pemuda ber...
Postingan terbaru

Dibalik Jendela

Sorot matanya yang tenang di balik poni yang menyelimuti wajahnya, dan senyumnya yang mampu memberikan nilai lebih pada dirinya. Walau aku hanya bisa melihatnya tersenyum dari balik jendela, itu sudah cukup membuatku bahagia, sesenang melihatnya tersenyum secara langsung, terlebih jika senyuman itu untukku. Aku, Kikan, adalah gadis yang canggung, pemalu, dan sering kali merasa tidak percaya diri. Rambut panjangku selalu kuikat rapi, tapi kadang poni yang menutupi wajahku membuatku merasa terkurung. Mataku yang besar sering kali sulit menyembunyikan perasaanku. Aku bukanlah gadis yang menonjol, apalagi dibandingkan dengan teman-temanku yang selalu penuh percaya diri. Aku mulai menyukainya satu bulan yang lalu, saat kami sama-sama terjebak hujan di halte depan sekolah. Awalnya, hari itu terasa sangat menyebalkan. Bajuku yang putih sudah basah terkena cipratan hujan, dan aku mulai kedinginan. Dengan tubuh kecilku yang terbungkus seragam yang basah, aku merasa sangat tidak berdaya. Dan...

Putri Kunyit

Di sebuah kerajaan jauh di ujung lembah rempah, berdirilah Kastil Boemboe yang megah berkilauan. Di dalamnya tinggal seorang putri bernama Putri Kunyit — gadis berkulit kuning keemasan, berhati lembut, dan selalu tersenyum pada siapa pun yang ditemuinya. Bagi rakyat, Putri Kunyit tampak sempurna. Mereka sering berbisik kagum, “Ah, lihatlah Putri Kunyit! Pasti hidupnya tanpa cela.” Namun, tak ada yang tahu bahwa di balik senyum dan cahaya kastil itu, Putri Kunyit menyimpan banyak kekurangan dan keraguan yang tak terlihat. Ia sering merasa tidak seindah sepupunya, Putri Jahe Putih, yang kulitnya putih bersih, tinggi semampai dan rambutnya berkilau seperti salju. “Kenapa aku tidak secantik dia?” gumam Putri Kunyit setiap kali bercermin di kolam istana. Ia membandingkan dirinya, padahal tak pernah sekali pun Putri Jahe Putih melakukannya. Suatu hari, kerajaan itu kedatangan Pangeran dari Negeri Ramoean, yang terkenal bijak dan rendah hati. Raja dan Ratu mengadakan pesta di aula b...

KELINCI BAHAGIA

Pada suatu hari hiduplah seekor kelinci yang kehadirannya selalu membawa kebahagiaan untuk semua kelinci yang melihatnya. Itu karena si kelinci mempunyai suara tawa yang unik , sehingga kelinci lain yang mendengar suara tawanya pun ikut tertawa. Alasan itu-pun yang membuat si kelinci disebut sebagai kelinci bahagia. Si kelinci senang dengan sebutan itu, ia pun menjadi sering tertawa. Menurutnya menjadi kelinci yang selalu terlihat bahagia tidak lah buruk, ia hanya harus terus tertawa dan tidak usah menujukkan kesedihannya pada siapapun . Semenjak itu pun hidupnya selalu dipenuhi dengan kebahagiaan, suara tawa, dan pujian tentang dirinya yang selalu terlihat bahagia tanpa adanya sedikitpun kesedihan. Ia ini kelinci bahagia, ia harus selalu terlihat bahagia, itu pikirnya. Tanpa sadar, si kelinci mulai lupa rasanya sedih dan ia juga lupa caranya menangis. karena hanya rasa bahagia yang dirasakanya, perlahan-lahan hatinya pun mengeras menjadi batu. Semakin banyak suara tawa yang ia ...

Masalah Kecil

Layar ponsel menampilkan wajahnya yang kusut dan sedikit marah. Aku menatap layar, menahan emosi sendiri. “Kamu akhir-akhir ini cuek,” ucapku, menahan nada kesal. “Kayak… aku nggak penting lagi buat kamu.” Dia menunduk sebentar. “Aku… nggak maksud gitu,” jawabnya pelan. Aku menghela napas. “Kamu sibuk kerja, aku ngerti. Tapi aku nggak mau ngerasa sendirian terus. Kamu bikin aku ngerasa dicuekin…” Hening sejenak. Lalu layar ponsel mati. Aku terkejut. Dia menutup panggilan. Hatiku campur aduk antara marah dan cemas. Setelah beberapa menit, dia menelepon lagi. Wajahnya sedikit memerah, matanya tampak sembab, tapi dia mencoba tersenyum. “Maaf… tadi aku… cuma butuh waktu sebentar,” katanya. Suaranya terdengar agak serak, berbeda dari biasanya. Aku menatapnya dengan seksama. “Eh… kamu abis nangis, kan?” tanyaku, setengah tersenyum. Rasa ingin memarahinya hilang. Aku tidak menyangka ia akan menangis hanya karna aku mengatakan ia sedikit berbeda akhir-akhir ini. Dia menunduk, tak b...

Belajar dari Ngulek

Kalo kalian pikir ini tulisan mengenai tutorial mengulek bumbu kalian bisa melewati ini , karena tulisan ini berisi pengalaman menyenangkan ketika  penulis  sedang menghaluskan bumbu atau mengulek bumbu masakan di dapur. Mengulek itu menggiling (melumatkan) cabai dengan ulek menurut KBBI, tapi kita semua tahu bahwa yang bisa di giling atau dihaluskan dengan ulek itu juga mencakup bumbu-bumbu dapur lainnya, seperti bawang merah, ketumbar, kunyit, kencur, dan sebagainya. Ulek disini berarti alat yang terbuat dari kayu atau batu untuk menggiling (melumatkan) cabai, rempah-rempah dan sebagainya, yang biasa kita kenal dengan cobek.  Oke stop sampai sini  tentang pengertian mengulek, kalian pasti bisa mencarinya sendiri. Kita b alik lagi pada pembahasan diawal, tentang pengalaman menyenangkan ketika sedang mengulek. Jujur saja mengulek merupakan salah satu kegiatan yang menyenangkan bagi saya , karena ketika sedang mengulek kita  bisa bengong tanpa terlihat sedang ben...

Salah Hati

Hati berbisik dengan lembut "Sepertinya kau menyukai orang itu". "Tidak! kau hanya sedang punya masalah dengannya, karena itu kau terus memikirkannya.” Bantah logika tak ingin membenarkan. Tapi setelahnya hati kembali bertanya "Memangnya masalah apa yg kau punya dengannya?". Logika menyebutkan masalahku dengan orang itu, “Ia mempermasalahkan keputusan dirimu yang memilih pergi, selanjutnya ia membuatmu seperti tak terlihat, tidak pernah sekalipun ia menyapamu kembali setelah kejadian itu, dan lagi ia sepertinya membencimu ...” Logika nampak emosional. Hati mendengarkan dan dalam diampun ia membenarkan semua yang disebutkan logika, tapi kemudian hati berkata "sepertinya masalahnya ada padaku". Apa yang dimaksud oleh hati? Aku tidak memahaminya. Hati berkata kembali "Aku yang selalu membuatmu memikirkannya". Begitulah kata hati. Logika tak menjawab, membenarkan dalam diam karena sepertinya hati memang benar. Aku terus memikirkan oran...