Langsung ke konten utama

Dibalik Jendela

Sorot matanya yang tenang di balik poni yang menyelimuti wajahnya, dan senyumnya yang mampu memberikan nilai lebih pada dirinya. Walau aku hanya bisa melihatnya tersenyum dari balik jendela, itu sudah cukup membuatku bahagia, sesenang melihatnya tersenyum secara langsung, terlebih jika senyuman itu untukku.

Aku, Kikan, adalah gadis yang canggung, pemalu, dan sering kali merasa tidak percaya diri. Rambut panjangku selalu kuikat rapi, tapi kadang poni yang menutupi wajahku membuatku merasa terkurung. Mataku yang besar sering kali sulit menyembunyikan perasaanku. Aku bukanlah gadis yang menonjol, apalagi dibandingkan dengan teman-temanku yang selalu penuh percaya diri.

Aku mulai menyukainya satu bulan yang lalu, saat kami sama-sama terjebak hujan di halte depan sekolah. Awalnya, hari itu terasa sangat menyebalkan. Bajuku yang putih sudah basah terkena cipratan hujan, dan aku mulai kedinginan. Dengan tubuh kecilku yang terbungkus seragam yang basah, aku merasa sangat tidak berdaya. Dan lebih sialnya lagi, hanya aku yang ada di sana, hingga akhirnya dia berhenti untuk berteduh di halte yang sama.

Aku tak pernah mengira bahwa dia satu sekolah denganku. Fattah—dia adalah kakak kelasku yang selalu tenang. Tingginya lebih dari sedikit di atas rata-rata, dengan wajah yang tampan namun tidak terlalu mencolok. Rambutnya yang sedikit acak-acakan selalu tampak rapi, dan matanya yang tajam. Fattah bukanlah orang yang banyak bicara, tapi setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa penuh makna.

Fattah berhenti di halte itu tanpa banyak berkata-kata. Ia melepaskan jaket yang ia kenakan dan menawarkan untuk meminjamkannya kepadaku. Aku menolaknya, meskipun tubuhku mulai menggigil karena dingin.

Namun, dia dengan bijak menjelaskan bahwa dia tidak ingin melihatku kedinginan, apalagi dengan bajuku yang basah dan menjadi transparan. Aku merasa malu, berusaha menutupi tubuhku dengan jilbab yang ku pakai. Tapi saat aku sibuk dengan jilbabku, tiba-tiba jaketnya mendarat di atas kepalaku. “Gak usah nolak, pakai aja,” katanya dengan tegas.

Aku terkejut, tapi begitu aku menarik jaket itu dan melirik ke arahnya, dia tersenyum. Senyum itu—senyuman pertama darinya—langsung membuat hatiku berdebar kencang. Itu adalah senyum yang sederhana, namun membuat dunia seakan berhenti sejenak.

Seminggu setelah kejadian itu, aku baru mengetahui bahwa namanya Fattah. Ia adalah kakak kelasku, kelasnya tepat di seberang kelasku. Aku mengajak Alma, teman sekelasku yang selalu setia menemani, untuk mengantarku mengembalikan jaketnya. Alma tahu betul bagaimana aku merasa tentang Fattah, dan ia selalu mendukungku tanpa menghakimi.

Aku meminta salah satu teman sekelas Fattah untuk memanggilnya keluar menemui kami. Ketika dia muncul, senyumnya lagi-lagi hadir. “Oh, thanks, Kikan,” katanya sambil menyingkirkan poni yang menutupi matanya.

Aku merasa bingung. Dia tahu namaku? Aku bahkan tak pernah mengucapkan namaku padanya sebelumnya. “Semua orang tahu kamu, kali,” jawabnya singkat.
Saat itu aku ingin sekali berteriak kegirangan, tapi aku hanya bisa tersenyum canggung, berusaha menutupi perasaan yang berkecamuk di dalam hatiku.

Aku mulai menaruh harapan besar bahwa Fattah juga menyukaiku dan mungkin suatu saat akan mengungkapkan perasaannya padaku. Tapi kenyataannya, setiap pagi aku hanya bisa mencari sosoknya dari balik jendela kelasku, berharap melihat senyumannya lagi.

Namun, semua harapanku ternyata hanya mimpi. Dia tidak menyukaiku. Dia menyukai Kak Farah—teman sekelasnya yang cantik, populer, dan cerdas. Kak Farah selalu terlihat sempurna, dengan rambut panjangnya yang berkilau dan senyum yang memikat hati siapa saja. Ia adalah anggota OSIS yang terkenal dengan kepeduliannya terhadap orang lain.

Sakit rasanya mengetahui kenyataan ini, dan lebih sakit lagi mendengar kabar itu, meskipun aku tidak ingin mendengarnya. Tapi aku tahu, aku tak bisa berbuat apa-apa. Kak Farah dan Fattah sudah dekat, mereka selalu terlihat saling mendukung, seperti pasangan yang sudah lama bersama. Aku hanya bisa mengagumi mereka dari kejauhan.

Kak Farah bukanlah tipe orang yang sombong. Ia baik, pintar, dan selalu menyempatkan diri untuk membantu orang lain, termasuk Fattah. Aku tak bisa membencinya, meskipun perasaan cemburu selalu menggelayuti hati kecilku. Aku tahu, jika aku berusaha mendekatkan diri pada Fattah, itu hanya akan merusak hubungan mereka. Dan aku tidak ingin menjadi penyebab retaknya hubungan pertemanan mereka.

Namun hingga kini, setiap hari aku masih mencari Fattah dari balik jendela kelasku. Walaupun aku tahu dia telah menjadi milik Farah, aku masih berharap, meskipun hanya dalam diam, bahwa mungkin suatu saat nanti dia akan menyadari aku. Tapi aku tahu, itu hanya impian seorang gadis yang diam-diam mencintainya dari balik jendela—impian yang mungkin takkan pernah terwujud.

Selesai...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar dari Ngulek

Kalo kalian pikir ini tulisan mengenai tutorial mengulek bumbu kalian bisa melewati ini , karena tulisan ini berisi pengalaman menyenangkan ketika  penulis  sedang menghaluskan bumbu atau mengulek bumbu masakan di dapur. Mengulek itu menggiling (melumatkan) cabai dengan ulek menurut KBBI, tapi kita semua tahu bahwa yang bisa di giling atau dihaluskan dengan ulek itu juga mencakup bumbu-bumbu dapur lainnya, seperti bawang merah, ketumbar, kunyit, kencur, dan sebagainya. Ulek disini berarti alat yang terbuat dari kayu atau batu untuk menggiling (melumatkan) cabai, rempah-rempah dan sebagainya, yang biasa kita kenal dengan cobek.  Oke stop sampai sini  tentang pengertian mengulek, kalian pasti bisa mencarinya sendiri. Kita b alik lagi pada pembahasan diawal, tentang pengalaman menyenangkan ketika sedang mengulek. Jujur saja mengulek merupakan salah satu kegiatan yang menyenangkan bagi saya , karena ketika sedang mengulek kita  bisa bengong tanpa terlihat sedang ben...

Masalah Kecil

Layar ponsel menampilkan wajahnya yang kusut dan sedikit marah. Aku menatap layar, menahan emosi sendiri. “Kamu akhir-akhir ini cuek,” ucapku, menahan nada kesal. “Kayak… aku nggak penting lagi buat kamu.” Dia menunduk sebentar. “Aku… nggak maksud gitu,” jawabnya pelan. Aku menghela napas. “Kamu sibuk kerja, aku ngerti. Tapi aku nggak mau ngerasa sendirian terus. Kamu bikin aku ngerasa dicuekin…” Hening sejenak. Lalu layar ponsel mati. Aku terkejut. Dia menutup panggilan. Hatiku campur aduk antara marah dan cemas. Setelah beberapa menit, dia menelepon lagi. Wajahnya sedikit memerah, matanya tampak sembab, tapi dia mencoba tersenyum. “Maaf… tadi aku… cuma butuh waktu sebentar,” katanya. Suaranya terdengar agak serak, berbeda dari biasanya. Aku menatapnya dengan seksama. “Eh… kamu abis nangis, kan?” tanyaku, setengah tersenyum. Rasa ingin memarahinya hilang. Aku tidak menyangka ia akan menangis hanya karna aku mengatakan ia sedikit berbeda akhir-akhir ini. Dia menunduk, tak b...

Bahagiaku

Jangan berpikir untuk menaruh kebahagiaan pada orang lain, menargetkan seseorang sebagai patokan kebahagiaan dirimu. Seperti halnya 'Aku akan bahagia bila bersama dengannya' atau 'Apa pun yang membuatnya bahagia, itu pula yang membuatku bahagia'. Jangan membiarkannya mengunci kesenangan dirimu, pikirkan bahwa bahagiamu keputusanmu, semua kendalinya ada padamu. Ingin atau tidaknya kamu bahagia, bisa atau tidaknya kamu bahagia, kehendaknya ada padamu. Sederhananya, kamu harus bahagia karena dirimu sendiri yang menginginkannya.