Langsung ke konten utama

Belajar dari Ngulek

Kalo kalian pikir ini tulisan mengenai tutorial mengulek bumbu kalian bisa melewati ini, karena tulisan ini berisi pengalaman menyenangkan ketika penulis sedang menghaluskan bumbu atau mengulek bumbu masakan di dapur. Mengulek itu menggiling (melumatkan) cabai dengan ulek menurut KBBI, tapi kita semua tahu bahwa yang bisa di giling atau dihaluskan dengan ulek itu juga mencakup bumbu-bumbu dapur lainnya, seperti bawang merah, ketumbar, kunyit, kencur, dan sebagainya. Ulek disini berarti alat yang terbuat dari kayu atau batu untuk menggiling (melumatkan) cabai, rempah-rempah dan sebagainya, yang biasa kita kenal dengan cobek. Oke stop sampai sini tentang pengertian mengulek, kalian pasti bisa mencarinya sendiri. Kita balik lagi pada pembahasan diawal, tentang pengalaman menyenangkan ketika sedang mengulek.

Jujur saja mengulek merupakan salah satu kegiatan yang menyenangkan bagi saya, karena ketika sedang mengulek kita bisa bengong tanpa terlihat sedang bengong. Mungkin pendapat saya tentang “bengong” terdengar aneh, tapi bengong (melamun) merupakan moment luar biasa yang kadang membuat saya menemukan memori-memori terlupakan yang sebenarnya penting. Seperti misalnya, tugas yang belum sempat diselesaikan bahkan belum dibaca perintahnya oleh kita. Ya benar, saya tahu itu memori menyebalkan yang tidak bisa hilang bahkan ketika kita ingin menghilangkannya. Tetapi tidak hanya terbatas pada memori menyebalkan, bisa jadi ada ingatan lain yang tiba-tiba bisa saja membuat kita mengeluarkan 2 suku kata “hehe” sembari sedikit menyeringai mengingat hal yang menggelitik seru. Bagaimana? Apakah sudah tersampaikan nikmatnya bengong?

Tapi kita tahu bahwa bengong itu tidak bisa kita lakukan ketika sedang bersama orang lain. Kita pasti akan di tegur dengan ucapan “jangan bengong aja!” atau “bengong mulu!” dan akan dilanjutkan dengan kata “kenapa?” yang berujung keingintahuan orang lain tentang apa yang sedang kita pikirkan. Saya sangat mengerti bahwa bengong itu erat kaitannya dengan gejala awal stres atau gangguan mental dan emosional pada seseorang. Tapi ada hal yang perlu kalian tahu, dikutip dari liputan6.com ternyata melamun berdampak positif bagi Kesehatan mental. Fun fact tentang bengong memang terlihat baik, tapi ketika sedang bengong di dekat orang lain, pastinya kita tidak enak untuk dipandang. Oleh karena ketika sedang mengulek, kita bisa bengong tanpa terlihat sedang bengong.

Bukan hanya kenikmatan yang kita dapat, ada juga yang bisa dipelajari ketika sedang mengulek. Berbeda dari alat penghalus lainnya seperti, chopper, blender, dan hand blender. Ulek atau cobek ketika dipakai untuk menghaluskan bumbu, biasanya dilakukan sedikit demi sedikit, satu per satu butir - kecuali ukurannya kecil seperti ketumbar dan merica. Dari hal tersebut kita bisa mempelajari kesabaran, dimana mengulek bumbu menggunakan cobek dilakukan dengan tangan (manual) secara  perlahan disetiap tahapnya. Mulai dari bumbu yang memiliki tekstur kasar seperti jahe, kunyit, lengkuas, kemiri, dan sebagainya. Dilanjutkan dengan cabai yang kita hancurkan perlahan, agar setiap serpihannya tetap terkendali dan tidak memicu percikan liar yang melompat tanpa arah. Terlebih lagi untuk cabai yang sudah direbus, percikannya akan melompat jauh sampai pada mata, dan akan menimbulkan sensasi perih yang luar biasa. Setelah itu dilanjutkan dengan menggerus bawang merah, bawang putih, barulah kita menggerus tomat yang kemudian dilanjutkan dengan proses menghaluskan. Selama proses menghaluskan setiap butir bumbu yang berada dalam cobek, merupakan proses yang paling mudah membuat kita menyerah. Bukan tanpa alasan, tapi karena selama proses menghaluskan itu sendi lengan kita diharuskan untuk terus bergerak hingga semua rempahnya berubah menjadi bumbu bersaman dengan bawang, tomat, dan cabai.

Dari proses yang panjang tersebut, dapat disimpukan bahwa proses mengulek bukan hanya melatih kesabaran tetapi juga dapat memberikan kita gambaran bahwa proses yang kita lalui untuk mencapai suatu tujuan tidaklah tanpa adanya perjuangan. Menghaluskan kulit cabai dan lapisan luar bawang merah, merupakan proses yang menurut saya paling sulit, tetapi ketika lengan kita terus bergerak untuk menggerus setiap lebar kuit cabai dan kulit luar bawang merah, lama-lama keduanya akan hancur dan lebur juga. Sama seperti proses mencapai tujuan tertentu, kita pasti menemukan hal yang sulit selama prosesnya, tetapi jika konsisten dengan apa yang sedang dikerjakan untuk mecapai tujuan tertentu, pastinya kita akan sampai juga pada tujuan tersebut. Ada juga tambahan dari saya sebagai penulis ketika hendak mengulek, pastikan tambahkan garam dalam cobek. Gunanya untuk apa? Garam dapat membantu membuat apa yang akan kita haluskan dalam cobek menjadi tidak licin dan mudah saat di gerus. Kita asumsikan bahwa garam merupakan tambahan lain yang mempermudah setiap bumbunya halus. Sama juga semisal diri kita sudah berjuang untuk mencapai suatu tujuan, dan mendapat bantuan lain seperti do’a dan ridha orang tua, juga do’a kita kepada tuhan untuk dapat mencapai suatu tujuan dengan dipermudah prosesnya.

Semoga tulisan yang penulis buat bisa dimengerti dan dinikmati oleh pembaca di setiap kalimatnya. Saya tidak menyebutkan bahwa tulisan ini bermanfaat, karena memang tulisan ini merupakan salah satu karya bualan dalam blog saya, jadi selamat membaca semuanya! 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Masalah Kecil

Layar ponsel menampilkan wajahnya yang kusut dan sedikit marah. Aku menatap layar, menahan emosi sendiri. “Kamu akhir-akhir ini cuek,” ucapku, menahan nada kesal. “Kayak… aku nggak penting lagi buat kamu.” Dia menunduk sebentar. “Aku… nggak maksud gitu,” jawabnya pelan. Aku menghela napas. “Kamu sibuk kerja, aku ngerti. Tapi aku nggak mau ngerasa sendirian terus. Kamu bikin aku ngerasa dicuekin…” Hening sejenak. Lalu layar ponsel mati. Aku terkejut. Dia menutup panggilan. Hatiku campur aduk antara marah dan cemas. Setelah beberapa menit, dia menelepon lagi. Wajahnya sedikit memerah, matanya tampak sembab, tapi dia mencoba tersenyum. “Maaf… tadi aku… cuma butuh waktu sebentar,” katanya. Suaranya terdengar agak serak, berbeda dari biasanya. Aku menatapnya dengan seksama. “Eh… kamu abis nangis, kan?” tanyaku, setengah tersenyum. Rasa ingin memarahinya hilang. Aku tidak menyangka ia akan menangis hanya karna aku mengatakan ia sedikit berbeda akhir-akhir ini. Dia menunduk, tak b...

Bahagiaku

Jangan berpikir untuk menaruh kebahagiaan pada orang lain, menargetkan seseorang sebagai patokan kebahagiaan dirimu. Seperti halnya 'Aku akan bahagia bila bersama dengannya' atau 'Apa pun yang membuatnya bahagia, itu pula yang membuatku bahagia'. Jangan membiarkannya mengunci kesenangan dirimu, pikirkan bahwa bahagiamu keputusanmu, semua kendalinya ada padamu. Ingin atau tidaknya kamu bahagia, bisa atau tidaknya kamu bahagia, kehendaknya ada padamu. Sederhananya, kamu harus bahagia karena dirimu sendiri yang menginginkannya.