Langsung ke konten utama

Putri Kunyit

Di sebuah kerajaan jauh di ujung lembah rempah, berdirilah Kastil Boemboe yang megah berkilauan. Di dalamnya tinggal seorang putri bernama Putri Kunyit — gadis berkulit kuning keemasan, berhati lembut, dan selalu tersenyum pada siapa pun yang ditemuinya.

Bagi rakyat, Putri Kunyit tampak sempurna. Mereka sering berbisik kagum, “Ah, lihatlah Putri Kunyit! Pasti hidupnya tanpa cela.”

Namun, tak ada yang tahu bahwa di balik senyum dan cahaya kastil itu, Putri Kunyit menyimpan banyak kekurangan dan keraguan yang tak terlihat. Ia sering merasa tidak seindah sepupunya, Putri Jahe Putih, yang kulitnya putih bersih, tinggi semampai dan rambutnya berkilau seperti salju.

“Kenapa aku tidak secantik dia?” gumam Putri Kunyit setiap kali bercermin di kolam istana.

Ia membandingkan dirinya, padahal tak pernah sekali pun Putri Jahe Putih melakukannya.

Suatu hari, kerajaan itu kedatangan Pangeran dari Negeri Ramoean, yang terkenal bijak dan rendah hati. Raja dan Ratu mengadakan pesta di aula besar kastil. Semua tamu berkilau dengan pakaian indah, termasuk Putri Jahe Putih yang tampak mempesona dengan gaun putihnya.

Putri Kunyit duduk di sudut, mencoba menyembunyikan kegelisahannya. Tapi tiba-tiba, salah satu pelayan menjatuhkan nampan berisi minuman, dan semua orang menatapnya dengan tatapan marah. Tanpa pikir panjang, Putri Kunyit melangkah maju, menenangkan pelayan itu dan membantunya memungut gelas yang pecah.

Pangeran Kayu Manis memperhatikan dari jauh. Setelah pesta usai, ia menghampiri Putri Kunyit dan berkata,

“Aku melihat sesuatu yang lebih indah dari cahaya kristal di aula ini.”

“Apa itu?” tanya Putri Kunyit bingung.

“Keberanian dan ketulusanmu,” jawab sang Pangeran. “Keindahan sejati tidak ada di kulit atau rambut, tapi di hati yang mau berbuat baik.”

Putri Kunyit terdiam. Kata-kata itu terasa seperti sinar matahari yang menembus kabut dalam hatinya. Ia menyadari, bahwa kekurangannya bukanlah hal yang harus disembunyikan, karena di balik kekurangan itu, selalu ada cahaya kebaikan yang bisa ia bagikan.

Sejak hari itu, Putri Kunyit tidak lagi sibuk membandingkan diri dengan siapa pun. Ia tetap tinggal di Kastil Boemboe — bukan sebagai putri yang sempurna, tapi sebagai putri yang tulus, apa adanya, dan bersinar dari dalam. Dan rakyat pun akhirnya tahu, bahwa kesempurnaan sejati tidak terlihat oleh mata, melainkan dirasakan oleh hati.

Selesai...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar dari Ngulek

Kalo kalian pikir ini tulisan mengenai tutorial mengulek bumbu kalian bisa melewati ini , karena tulisan ini berisi pengalaman menyenangkan ketika  penulis  sedang menghaluskan bumbu atau mengulek bumbu masakan di dapur. Mengulek itu menggiling (melumatkan) cabai dengan ulek menurut KBBI, tapi kita semua tahu bahwa yang bisa di giling atau dihaluskan dengan ulek itu juga mencakup bumbu-bumbu dapur lainnya, seperti bawang merah, ketumbar, kunyit, kencur, dan sebagainya. Ulek disini berarti alat yang terbuat dari kayu atau batu untuk menggiling (melumatkan) cabai, rempah-rempah dan sebagainya, yang biasa kita kenal dengan cobek.  Oke stop sampai sini  tentang pengertian mengulek, kalian pasti bisa mencarinya sendiri. Kita b alik lagi pada pembahasan diawal, tentang pengalaman menyenangkan ketika sedang mengulek. Jujur saja mengulek merupakan salah satu kegiatan yang menyenangkan bagi saya , karena ketika sedang mengulek kita  bisa bengong tanpa terlihat sedang ben...

Masalah Kecil

Layar ponsel menampilkan wajahnya yang kusut dan sedikit marah. Aku menatap layar, menahan emosi sendiri. “Kamu akhir-akhir ini cuek,” ucapku, menahan nada kesal. “Kayak… aku nggak penting lagi buat kamu.” Dia menunduk sebentar. “Aku… nggak maksud gitu,” jawabnya pelan. Aku menghela napas. “Kamu sibuk kerja, aku ngerti. Tapi aku nggak mau ngerasa sendirian terus. Kamu bikin aku ngerasa dicuekin…” Hening sejenak. Lalu layar ponsel mati. Aku terkejut. Dia menutup panggilan. Hatiku campur aduk antara marah dan cemas. Setelah beberapa menit, dia menelepon lagi. Wajahnya sedikit memerah, matanya tampak sembab, tapi dia mencoba tersenyum. “Maaf… tadi aku… cuma butuh waktu sebentar,” katanya. Suaranya terdengar agak serak, berbeda dari biasanya. Aku menatapnya dengan seksama. “Eh… kamu abis nangis, kan?” tanyaku, setengah tersenyum. Rasa ingin memarahinya hilang. Aku tidak menyangka ia akan menangis hanya karna aku mengatakan ia sedikit berbeda akhir-akhir ini. Dia menunduk, tak b...

Bahagiaku

Jangan berpikir untuk menaruh kebahagiaan pada orang lain, menargetkan seseorang sebagai patokan kebahagiaan dirimu. Seperti halnya 'Aku akan bahagia bila bersama dengannya' atau 'Apa pun yang membuatnya bahagia, itu pula yang membuatku bahagia'. Jangan membiarkannya mengunci kesenangan dirimu, pikirkan bahwa bahagiamu keputusanmu, semua kendalinya ada padamu. Ingin atau tidaknya kamu bahagia, bisa atau tidaknya kamu bahagia, kehendaknya ada padamu. Sederhananya, kamu harus bahagia karena dirimu sendiri yang menginginkannya.