Di sebuah kerajaan jauh di ujung lembah rempah, berdirilah Kastil Boemboe yang megah berkilauan. Di dalamnya tinggal seorang putri bernama Putri Kunyit — gadis berkulit kuning keemasan, berhati lembut, dan selalu tersenyum pada siapa pun yang ditemuinya.
Bagi rakyat, Putri Kunyit tampak sempurna. Mereka sering berbisik kagum, “Ah, lihatlah Putri Kunyit! Pasti hidupnya tanpa cela.”
Namun, tak ada yang tahu bahwa di balik senyum dan cahaya kastil itu, Putri Kunyit menyimpan banyak kekurangan dan keraguan yang tak terlihat. Ia sering merasa tidak seindah sepupunya, Putri Jahe Putih, yang kulitnya putih bersih, tinggi semampai dan rambutnya berkilau seperti salju.
“Kenapa aku tidak secantik dia?” gumam Putri Kunyit setiap kali bercermin di kolam istana.
Ia membandingkan dirinya, padahal tak pernah sekali pun Putri Jahe Putih melakukannya.
Suatu hari, kerajaan itu kedatangan Pangeran dari Negeri Ramoean, yang terkenal bijak dan rendah hati. Raja dan Ratu mengadakan pesta di aula besar kastil. Semua tamu berkilau dengan pakaian indah, termasuk Putri Jahe Putih yang tampak mempesona dengan gaun putihnya.
Putri Kunyit duduk di sudut, mencoba menyembunyikan kegelisahannya. Tapi tiba-tiba, salah satu pelayan menjatuhkan nampan berisi minuman, dan semua orang menatapnya dengan tatapan marah. Tanpa pikir panjang, Putri Kunyit melangkah maju, menenangkan pelayan itu dan membantunya memungut gelas yang pecah.
Pangeran Kayu Manis memperhatikan dari jauh. Setelah pesta usai, ia menghampiri Putri Kunyit dan berkata,
“Aku melihat sesuatu yang lebih indah dari cahaya kristal di aula ini.”
“Apa itu?” tanya Putri Kunyit bingung.
“Keberanian dan ketulusanmu,” jawab sang Pangeran. “Keindahan sejati tidak ada di kulit atau rambut, tapi di hati yang mau berbuat baik.”
Putri Kunyit terdiam. Kata-kata itu terasa seperti sinar matahari yang menembus kabut dalam hatinya. Ia menyadari, bahwa kekurangannya bukanlah hal yang harus disembunyikan, karena di balik kekurangan itu, selalu ada cahaya kebaikan yang bisa ia bagikan.
Sejak hari itu, Putri Kunyit tidak lagi sibuk membandingkan diri dengan siapa pun. Ia tetap tinggal di Kastil Boemboe — bukan sebagai putri yang sempurna, tapi sebagai putri yang tulus, apa adanya, dan bersinar dari dalam. Dan rakyat pun akhirnya tahu, bahwa kesempurnaan sejati tidak terlihat oleh mata, melainkan dirasakan oleh hati.
Selesai...
Komentar
Posting Komentar