Hati berbisik dengan lembut "Sepertinya kau menyukai orang itu".
"Tidak! kau hanya sedang punya masalah dengannya, karena itu kau terus memikirkannya.” Bantah logika tak ingin membenarkan.
Tapi setelahnya hati kembali bertanya "Memangnya masalah apa yg kau punya dengannya?".
Logika menyebutkan masalahku dengan orang itu, “Ia mempermasalahkan keputusan dirimu yang memilih pergi, selanjutnya ia membuatmu seperti tak terlihat, tidak pernah sekalipun ia menyapamu kembali setelah kejadian itu, dan lagi ia sepertinya membencimu ...”
Logika nampak emosional. Hati mendengarkan dan dalam diampun ia membenarkan semua yang disebutkan logika, tapi kemudian hati berkata "sepertinya masalahnya ada padaku".
Apa yang dimaksud oleh hati?
Aku tidak memahaminya.
Hati berkata kembali "Aku yang selalu membuatmu memikirkannya".
Begitulah kata hati. Logika tak menjawab, membenarkan dalam diam karena sepertinya hati memang benar. Aku terus memikirkan orang itu karenanya.
Komentar
Posting Komentar