Langsung ke konten utama

Masalah Kecil

Layar ponsel menampilkan wajahnya yang kusut dan sedikit marah. Aku menatap layar, menahan emosi sendiri. “Kamu akhir-akhir ini cuek,” ucapku, menahan nada kesal. “Kayak… aku nggak penting lagi buat kamu.”

Dia menunduk sebentar. “Aku… nggak maksud gitu,” jawabnya pelan.

Aku menghela napas. “Kamu sibuk kerja, aku ngerti. Tapi aku nggak mau ngerasa sendirian terus. Kamu bikin aku ngerasa dicuekin…”

Hening sejenak. Lalu layar ponsel mati. Aku terkejut. Dia menutup panggilan. Hatiku campur aduk antara marah dan cemas.

Setelah beberapa menit, dia menelepon lagi. Wajahnya sedikit memerah, matanya tampak sembab, tapi dia mencoba tersenyum. “Maaf… tadi aku… cuma butuh waktu sebentar,” katanya. Suaranya terdengar agak serak, berbeda dari biasanya.

Aku menatapnya dengan seksama. “Eh… kamu abis nangis, kan?” tanyaku, setengah tersenyum. Rasa ingin memarahinya hilang. Aku tidak menyangka ia akan menangis hanya karna aku mengatakan ia sedikit berbeda akhir-akhir ini.

Dia menunduk, tak bisa lagi menahan. “Iya… aku nangis sebentar. Aku… aku merasa gagal, karena bikin kamu ngerasa dicuekin. Aku terlalu fokus kerja akhir-akhir ini sampai nggak sadar kalau aku bikin kamu ngerasa kesepian.”

Aku terdiam sejenak, tapi kemudian tersenyum tipis. “Kamu nggak gagal. Aku cuma pengen kamu ngerti kalau aku juga butuh perhatian kamu.”

Dia menarik napas panjang. “Aku janji, mulai sekarang aku bakal lebih perhatian. Aku nggak mau bikin kamu ngerasa sepi lagi.”

Aku tersenyum lebih lebar, lega. “Aku maafin kamu. Kita baik-baik lagi, ya?”

Dia menatap layar, senyumnya mulai tulus. “Ya… kita baik-baik lagi.”

Layar video call tetap menyala, tapi kini suasana lebih tenang. Kami saling menatap, tersenyum, dan merasakan kedekatan yang kembali hangat, seperti sebelum semua kesibukan dan kesalahpahaman memisahkan kami sebentar. Dan malam itu, meski hanya melalui layar ponsel, kami kembali merasa dekat, nyaman, dan tahu satu sama lain tetap saling membutuhkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar dari Ngulek

Kalo kalian pikir ini tulisan mengenai tutorial mengulek bumbu kalian bisa melewati ini , karena tulisan ini berisi pengalaman menyenangkan ketika  penulis  sedang menghaluskan bumbu atau mengulek bumbu masakan di dapur. Mengulek itu menggiling (melumatkan) cabai dengan ulek menurut KBBI, tapi kita semua tahu bahwa yang bisa di giling atau dihaluskan dengan ulek itu juga mencakup bumbu-bumbu dapur lainnya, seperti bawang merah, ketumbar, kunyit, kencur, dan sebagainya. Ulek disini berarti alat yang terbuat dari kayu atau batu untuk menggiling (melumatkan) cabai, rempah-rempah dan sebagainya, yang biasa kita kenal dengan cobek.  Oke stop sampai sini  tentang pengertian mengulek, kalian pasti bisa mencarinya sendiri. Kita b alik lagi pada pembahasan diawal, tentang pengalaman menyenangkan ketika sedang mengulek. Jujur saja mengulek merupakan salah satu kegiatan yang menyenangkan bagi saya , karena ketika sedang mengulek kita  bisa bengong tanpa terlihat sedang ben...

Bahagiaku

Jangan berpikir untuk menaruh kebahagiaan pada orang lain, menargetkan seseorang sebagai patokan kebahagiaan dirimu. Seperti halnya 'Aku akan bahagia bila bersama dengannya' atau 'Apa pun yang membuatnya bahagia, itu pula yang membuatku bahagia'. Jangan membiarkannya mengunci kesenangan dirimu, pikirkan bahwa bahagiamu keputusanmu, semua kendalinya ada padamu. Ingin atau tidaknya kamu bahagia, bisa atau tidaknya kamu bahagia, kehendaknya ada padamu. Sederhananya, kamu harus bahagia karena dirimu sendiri yang menginginkannya.