Layar ponsel menampilkan wajahnya yang kusut dan sedikit marah. Aku menatap layar, menahan emosi sendiri. “Kamu akhir-akhir ini cuek,” ucapku, menahan nada kesal. “Kayak… aku nggak penting lagi buat kamu.”
Dia menunduk sebentar. “Aku… nggak maksud gitu,” jawabnya pelan.
Aku menghela napas. “Kamu sibuk kerja, aku ngerti. Tapi aku nggak mau ngerasa sendirian terus. Kamu bikin aku ngerasa dicuekin…”
Hening sejenak. Lalu layar ponsel mati. Aku terkejut. Dia menutup panggilan. Hatiku campur aduk antara marah dan cemas.
Setelah beberapa menit, dia menelepon lagi. Wajahnya sedikit memerah, matanya tampak sembab, tapi dia mencoba tersenyum. “Maaf… tadi aku… cuma butuh waktu sebentar,” katanya. Suaranya terdengar agak serak, berbeda dari biasanya.
Aku menatapnya dengan seksama. “Eh… kamu abis nangis, kan?” tanyaku, setengah tersenyum. Rasa ingin memarahinya hilang. Aku tidak menyangka ia akan menangis hanya karna aku mengatakan ia sedikit berbeda akhir-akhir ini.
Dia menunduk, tak bisa lagi menahan. “Iya… aku nangis sebentar. Aku… aku merasa gagal, karena bikin kamu ngerasa dicuekin. Aku terlalu fokus kerja akhir-akhir ini sampai nggak sadar kalau aku bikin kamu ngerasa kesepian.”
Dia menarik napas panjang. “Aku janji, mulai sekarang aku bakal lebih perhatian. Aku nggak mau bikin kamu ngerasa sepi lagi.”
Aku tersenyum lebih lebar, lega. “Aku maafin kamu. Kita baik-baik lagi, ya?”
Dia menatap layar, senyumnya mulai tulus. “Ya… kita baik-baik lagi.”
Layar video call tetap menyala, tapi kini suasana lebih tenang. Kami saling menatap, tersenyum, dan merasakan kedekatan yang kembali hangat, seperti sebelum semua kesibukan dan kesalahpahaman memisahkan kami sebentar. Dan malam itu, meski hanya melalui layar ponsel, kami kembali merasa dekat, nyaman, dan tahu satu sama lain tetap saling membutuhkan.
Komentar
Posting Komentar