Pada suatu hari hiduplah seekor kelinci yang kehadirannya selalu membawa kebahagiaan untuk semua kelinci yang melihatnya. Itu karena si kelinci mempunyai suara tawa yang unik, sehingga kelinci lain yang mendengar suara tawanya pun ikut tertawa. Alasan itu-pun yang membuat si kelinci disebut sebagai kelinci bahagia.
Si kelinci senang dengan sebutan itu, ia pun menjadi sering tertawa. Menurutnya menjadi kelinci yang selalu terlihat bahagia tidaklah buruk, ia hanya harus terus tertawa dan tidak usah menujukkan kesedihannya pada siapapun.
Semenjak itu pun hidupnya selalu dipenuhi dengan kebahagiaan, suara tawa, dan pujian tentang dirinya yang selalu terlihat bahagia tanpa adanya sedikitpun kesedihan. Ia ini kelinci bahagia, ia harus selalu terlihat bahagia, itu pikirnya.
Tanpa sadar, si kelinci mulai lupa rasanya sedih dan ia juga lupa caranya menangis. karena hanya rasa bahagia yang dirasakanya, perlahan-lahan hatinya pun mengeras menjadi batu. Semakin banyak suara tawa yang ia keluarkan, maka semakin cepat hatinya membatu. Dan sebaliknya, semakin banyak ia menangis maka hatinya semakin cepat kembali menjadi seperti biasanya.
Kelinci itu mulai merasakan perubahan pada jantungnya, yang perlahan-lahan mengeras seperti batu. Ia cemas jika nanti hatinya benar-benar menjadi batu, ia akan berakhir sebagai Si Kelinci Keras Hati—seekor kelinci yang hampa dari segala rasa dan tak lagi mengenal arti perasaan.
Si kelinci mulai berpikir bahwa menjadi kelinci bahagia itu buruk, menjadi kelinci yang hanya merasakan kebahagiaan itu akan membuatnya menjadi kelinci keras hati yang tidak tahu rasanya kesedihan apalagi menangis lagi. Si kelinci mengurung diri didalam rumahnya.
Si kelinci tidak mau bertemu dengan kelinci lain karena ia takut nantinya ia malah tertawa dan hatinya akan menjadi batu. Itu sebabnya setiap harinya si kelinci selalu mencoba untuk menangis. Mencoba untuk kembali mengenal rasanya sedih seperti sebelum ia dipanggil dengan sebutan kelinci bahagia.
Tentu saja itu tidak mudah untuk si kelinci, karena ia sudah lama sekali tidak membiarkan rasa sedih itu masuk kedalam hatinya. Si kelinci takut sekali dengan kenyataan bahwa dirinya akan menjadi kelinci keras hati yang hampa.
Si kelinci semakin takut, takut sekali sampai-sampai tanpa sadar air matanya menetes mengenai telapak tangannya, si kelinci pun menangis. Dia Terus menerus menagis dirumahnya tapi anehnya hatinya merasa lega, ia bahagia. akhirnya si kelinci bisa kembali merasakan rasanya sedih walaupun melalui rasa takutnya. Ia juga sudah bisa menangis kembali walau hatinya merasakan kebahagiaan.
Si kelinci bersorak gembira karena hatinya telah pulih, tidak lagi membatu seperti dahulu. Ia tidak akan pernah berubah kembali menjadi si keras hati.
Kini, ia telah menggenggam kesadaran bahwa hati tidak dapat selamanya hanya menampung kebahagiaan. Hati diciptakan untuk menerima seluruh perasaan yang beragam bentuknya: bahagia, sedih, bahkan rasa takut.
"Jangan pernah berpikir bahwa orang lain akan menganggapmu lemah hanya karena menangis," bisik hatinya.
Menangis bukan hanya tanda kesedihan; air mata juga bisa tumpah saat kita merasa amat bahagia. Air mata adalah tanda ketulusan dan bukti nyata bahwa hatimu tidak membatu, melainkan hangat dan hidup. Jangan pernah takut untuk memperlihatkan ketulusan perasaanmu pada dunia.
Selesai >.<
Komentar
Posting Komentar