Langsung ke konten utama

Skala, Pemuda Bertanduk

 Suatu hari, seorang pemuda terbangun dengan kepala yang sangat sakit. Ketika menyentuh kepalanya, ia terkejut—ada sebuah tanduk yang tumbuh di sana. Ia melihat ke cermin dan membayangkan apa yang akan dikatakan orang-orang jika melihatnya.

‘Apa itu di kepalanya?’

‘Itu tanduk?’

‘Aneh sekali.’

‘Seperti monster!’

Pemuda itu merasa takut dan sedih mendengarnya, meski semuanya hanya ada dalam pikirannya.

“Siapa aku sebenarnya?” gumamnya.

Ia pun melarikan diri masuk ke dalam hutan, berharap bisa menjauh dari semuanya.

“Semoga aku bukan monster… kenapa dunia jahat padaku?” katanya sambil berjalan.

“Kalau benar aku monster… tolong selamatkan aku.”

Tiba-tiba ia terpeleset dan jatuh. Cahaya terang muncul sehingga ia menutupi matanya. Ketika cahaya itu hilang, berdirilah seorang pemuda bersayap di depannya.

“Tandukmu indah,” kata pemuda bersayap itu sambil mengulurkan tangan. Pemuda bertanduk itu mengangguk pelan dan berterima kasih.

“Ayo ikut aku,” ajak pemuda bersayap itu.

“Ke mana?”

“Aku ingin mempertemukanmu dengan yang lain.”

Pemuda bertanduk itu bingung, tapi ia mengikuti langkahnya. Saat berjalan, ia merasa seolah ada yang memperhatikan mereka.

“Tunggu di sini,” kata pemuda bersayap itu.

Tak lama kemudian ia kembali bersama tiga pemuda lain. Pemuda bertanduk itu terkejut—mereka semua memiliki keunikan. Ada yang bertelinga besar, ada yang memiliki dua paruh di bahu, dan ada yang salah satu matanya berbentuk bintang. Namun semuanya tersenyum hangat padanya.

“Apakah kamu mengingat kami?” tanya pemuda bermata bintang.

Pemuda bertanduk itu menggeleng pelan. Ia benar-benar tidak ingat. “Tidak apa-apa, biarkan kami mengenalkan diri,” kata pemuda bersayap.

“Namaku Edgar,” kata pemuda bermata bintang.

“Aku Lingga,” ujar si pemuda bertelinga besar.

“Aku Aska, dan ini Haru,” kata pemuda berparuh dua sambil menepuk bahu si pemuda bersayap.

“Aku Skala,” pemuda bertanduk itu menyebutkan namanya.

“Kami sudah tahu,” jawab Lingga sambil tersenyum.

Namun suasana tiba-tiba berubah ketika bulan tertutup bayangan hitam. Dari kegelapan itu muncul sebuah sosok gelap—Bayangan Hitam.

“Aku akan memisahkan kalian lagi, seperti dulu,” kata Bayangan Hitam dengan suara yang menyeramkan.

Haru tersentak. Ia mengingat kejadian sebelumnya—mereka pernah dipisahkan dan dilempar ke dunia manusia oleh si Bayangan Hitam.

“Tidak! Kami tidak akan membiarkan itu terjadi lagi,” kata Lingga. Mereka semua saling menggenggam tangan dan menghadap ke langit. “Kami tidak akan membiarkanmu sendirian lagi,” kata Haru sambil menggenggam tangan Skala lebih erat.

Bayangan Hitam mulai mengelilingi mereka dengan asap yang menyesakkan dan anginnya yang kencang, membuat hutan terasa sangat menakutkan. Namun kelima pemuda itu tetap bertahan, saling memberi kekuatan dan bertahan.

“Jangan biarkan dia memisahkan kita!” seru Lingga.

“Kita harus tetap bersama!” tambah Aska.

“Bayangan Hitam itu takut pada cahaya,” kata Haru. “Jika kita bersatu, bintang yang tidur di atas kita akan bangun dan cahayanya bisa mengusirnya.”

Dan benar saja—karena keberanian mereka, bintang itu perlahan bangun dan memancarkan cahaya yang sangat terang. Bayangan Hitam terseret oleh kekuatannya sendiri dan melarikan diri keluar dari hutan karena ketakutan dengan cahaya bintang yang mulai menerangi seluruh hutan.

“Kami senang kamu kembali kepada kami,” kata Aska.

“Apakah kamu sudah mengingat semuanya?” tanya Edgar.

Skala tersenyum. “Ya, aku sudah ingat. Aku lupa janji kita karena ulah Bayangan Hitam.”

Edgar memeluk Skala, dan yang lainnya ikut memeluk.

“Akhirnya kamu mengingatnya,” kata Aska.

“Mulai sekarang, kita tinggal di hutan ini bersama-sama dan saling menjaga,” kata Edgar.

“Ya, kita akan selalu bersama,” jawab mereka berlima.

Sejak hari itu, kelima pemuda dengan keunikan masing-masing hidup bersama di dalam hutan. Mereka menjaga hutan, saling melindungi, dan tidak pernah merasa sendirian lagi. Karena bersama, semua rasa takut menjadi hilang. Dan semua kesulitan terasa jauh lebih ringan.

 

Selesai..

https://youtu.be/XkDA02FHHik?si=XVyylBqeRD74Mfy9 

https://youtu.be/W3iSnJ663II?si=22I82TNkhmObsMkA 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar dari Ngulek

Kalo kalian pikir ini tulisan mengenai tutorial mengulek bumbu kalian bisa melewati ini , karena tulisan ini berisi pengalaman menyenangkan ketika  penulis  sedang menghaluskan bumbu atau mengulek bumbu masakan di dapur. Mengulek itu menggiling (melumatkan) cabai dengan ulek menurut KBBI, tapi kita semua tahu bahwa yang bisa di giling atau dihaluskan dengan ulek itu juga mencakup bumbu-bumbu dapur lainnya, seperti bawang merah, ketumbar, kunyit, kencur, dan sebagainya. Ulek disini berarti alat yang terbuat dari kayu atau batu untuk menggiling (melumatkan) cabai, rempah-rempah dan sebagainya, yang biasa kita kenal dengan cobek.  Oke stop sampai sini  tentang pengertian mengulek, kalian pasti bisa mencarinya sendiri. Kita b alik lagi pada pembahasan diawal, tentang pengalaman menyenangkan ketika sedang mengulek. Jujur saja mengulek merupakan salah satu kegiatan yang menyenangkan bagi saya , karena ketika sedang mengulek kita  bisa bengong tanpa terlihat sedang ben...

Masalah Kecil

Layar ponsel menampilkan wajahnya yang kusut dan sedikit marah. Aku menatap layar, menahan emosi sendiri. “Kamu akhir-akhir ini cuek,” ucapku, menahan nada kesal. “Kayak… aku nggak penting lagi buat kamu.” Dia menunduk sebentar. “Aku… nggak maksud gitu,” jawabnya pelan. Aku menghela napas. “Kamu sibuk kerja, aku ngerti. Tapi aku nggak mau ngerasa sendirian terus. Kamu bikin aku ngerasa dicuekin…” Hening sejenak. Lalu layar ponsel mati. Aku terkejut. Dia menutup panggilan. Hatiku campur aduk antara marah dan cemas. Setelah beberapa menit, dia menelepon lagi. Wajahnya sedikit memerah, matanya tampak sembab, tapi dia mencoba tersenyum. “Maaf… tadi aku… cuma butuh waktu sebentar,” katanya. Suaranya terdengar agak serak, berbeda dari biasanya. Aku menatapnya dengan seksama. “Eh… kamu abis nangis, kan?” tanyaku, setengah tersenyum. Rasa ingin memarahinya hilang. Aku tidak menyangka ia akan menangis hanya karna aku mengatakan ia sedikit berbeda akhir-akhir ini. Dia menunduk, tak b...

Bahagiaku

Jangan berpikir untuk menaruh kebahagiaan pada orang lain, menargetkan seseorang sebagai patokan kebahagiaan dirimu. Seperti halnya 'Aku akan bahagia bila bersama dengannya' atau 'Apa pun yang membuatnya bahagia, itu pula yang membuatku bahagia'. Jangan membiarkannya mengunci kesenangan dirimu, pikirkan bahwa bahagiamu keputusanmu, semua kendalinya ada padamu. Ingin atau tidaknya kamu bahagia, bisa atau tidaknya kamu bahagia, kehendaknya ada padamu. Sederhananya, kamu harus bahagia karena dirimu sendiri yang menginginkannya.