Titik-titik hujan terlihat jelas memenuhi aspal jalan raya – Ah aku terjebak hujan bulan Juni tanpa payung juga hoody. Suasana seperti ini, enaknya makan pisang goreng yang ditemani secangkir kopi Kapal Api hitam hangat. Indie bangeeet:)
Sheila menepuk kepalanya "Halah malah ngindie".
Namanya adalah Sheila Rahmah – saat ini dia sedang terjebak
hujan. Seharusnya Sheila sudah rebahan di rumah sambil streaming lagu oppa-oppa
kesayangannya yaitu Boyz. Sore ini music video baru Boyz rilis, jadi Sheila
harus cepat pulang ke rumah tapi sepertinya hujan tidak menyetujui rencananya.
Dear hujan yang paling berjasa untuk
kehidupan semua makhluk di bumi berhentilah sekarang. Tanah, tumbuhan, sungai,
dan makhluk hidup sudah merasa puas denganmu hari ini, berhenti yuuuk aku ingin
pulang. Yah berhenti yaaah.
Geluduk geluduk!!
Ya sudah sepertinya memang harus
menunggu lebih lama lagi. Sheila yang sudah menyerah
pada pada hujan~
Akhirnya Sheila hanya bisa memperhatikan jam tangannya. Bola
matanya mengikuti arah gerak jarum jam yang menunjukkan detik – Sheila gabut.
****
Irham menengadah wajahnya ke atas langit – hujannya sudah
lebat, untungnya dia selalu membawa jaket saat ke sekolah. Ia berlari dengan menerobos
tirai-tirai transparan menuju gerbang
depan sekolah – Akhirnya sampai juga.
Sheila yang sedari tadi bosan menunggu seketika melihat
secercah harapan yang akan membawanya pergi dari kegabutan ini, Sheila melihat
Irham yang juga ikut meneduh di sana.
"Hai tetangga!" Sapanya pada Irham yang belum
sadar akan keberadaannya. Irham mencari asal suara - ah Sheila rupanya. Irham tersenyum lalu balas menyapa Sheila.
Sheila dan Irham bertetangga sejak kecil tapi mereka jarang
sekali bertemu, bertemu hanya saat hari raya atau perayaan lainnya. Apalagi
sekarang mereka berdua sudah SMA, mereka menjadi lebih sibuk, Irham sibuk
menjadi ketua osis di sekolahnya dan Sheila sibuk rebahan di kamarnya – Sheila
bahkan punya jadwal rebahannya sendiri.
Mereka berdua tidak pernah benar-benar mengobrol panjang,
seperti sekarang ini hanya berbincang sekedarnya untuk menghilangkan bosan saat
menunggu. Setelah momen berakhir, kembali seperti semula hanya saling sapa saat
tak sengaja saling tatap.
‘Hai tetangga!’
Entah Sheila ataupun Irham yang lebih dulu menyapa dengan
sapaan khas mereka. Dan mereka menyukai sapaan itu.
****
Satu minggu kemudian, Sheila melihat bendera kuning
terpajang di halaman rumah Irham. Sheila bergegas menuju rumahnya untuk
bertanya kepada ibu, siapa yang meninggal dunia. Rupanya itu bendera untuk nenek
Irham, Sheila merasa sedih mendengarnya. Karena Irham sejak kecil diasuh oleh
kakek neneknya, dan sekarang neneknya sudah meninggalkan Irham dan kakeknya.
Sheila tahu dari ibunya bahwa ibu dan ayah Irham tidak pernah
mempedulikan Irham, mungkin karena dia adalah anak di luar pernikahan. Padahal
irham sangat berprestasi di sekolah, di lingkungan tempat tinggal-pun ia tidak
pernah dianggap sebagai anak yang nakal. Selalu dijadikan contoh teladan oleh
orang-orang dewasa, termasuk ibu Sheila. Bahkan Irham jadi yang paling sering
dibanding-bandingkan dengannya.
Sheila meminta untuk ikut melayat ke rumah Irham – ibu
menyetujuinya. Setelah berganti pakaian, Sheila ikut dengan ibunya dan ibu-ibu
lain melayat ke rumah Irham. Sesampainya di rumah Irham, Sheila melihat Irham
sedang sibuk kesana kemari menyiapkan pemakaman Almarhumah neneknya. Irham jadi
terlihat sangat dewasa di mata Sheila. Seketika Sheila penasaran apakah Irham
sudah sempat menangisi kepergian neneknya.
Ibu sheila menyenggol Sheila yang sedang bengong. "Heh
jangan bengong.. baca Yasin sana". Sheila mengiyakan permintaan itu untuk
mengajikan surat Yasin di samping jasad neneknya Irham.
****
Keesokan harinya, suasana di kelas Sheila jadi berbeda – ini
karena kejadian yang dialami Irham. Banyak sekali yang mengkhawatirkan Irham,
apalagi Irham sampai tidak masuk sekolah hari ini. Bukan hanya anak kelas Sheila,
banyak juga anak kelas lain yang menanyakan keadaan Irham padanya, padahal Sheila
itu hanya tetangga Irham. Hanya karena sering bertegur sapa Sheila dan Irham
dianggap sangat dekat.
Setelah melewati
hari yang rasanya seperti menjadi artis yang diburu oleh banyak wartawan. Sheila
pulang seperti biasa, melewati rumah Irham yang memang setiap hari dilewatinya.
Sheila melihat Irham yang sedang duduk di kursi hijau di depan rumahnya – kemudian
Irham memanggilnya.
"Sheila bu
Dewi ada di sini"
"Iyaa tahu kok".
Irham menghampiri Sheila."Katanya kamu disuruh makan di
rumahku" ucapnya "ibu kamu ga masak".
Irham mengajak Sheila masuk ke rumahnya. Kemudian mereka
menghampiri Ibu Sheila – meminta makan.
"Ibuu"
panggil Sheila
Ibu Sheila menghampiri mereka dan mengambilkan makanan untuk
mereka berdua. Ternyata Irham juga belum makan, dia terlalu sibuk mengurus
banyak hal sejak pagi.
Mereka berdua makan di belakang karena di depan sedang ramai tamu yang melayat,
ibu Sheila khawatir mereka akan terganggu jika makan di depan.
Hening.. karena mereka berdua sibuk memasukkan makanan ke
dalam mulut masing-masing – mereka sangat lapar.
Ibu
Sheila datang lagi, kali ini dengan membawa minum.
"Irham maaf
dong aku mau Aquanya" ucap Sheila meminta bantuan Irham
"Ini Sanqua bukan
Aqua" balas irham meledek
"Terserah..
sini aku mau satu"
Irham menertawakan ekspresi Sheila yang kesal karena
ulahnya. Sheila mulai ragu dengan ‘kebaik hatian’ Irham. Setelahnya mereka
berdua larut dalam obrolan ringan yang tidak jarang menghasilkan
semprotan-semprotan air dari keduanya. Ini pertama kalinya mereka memiliki
percakapan yang cukup panjang. Yah sampai-sampai baju mereka basah walau tak
kuyup.
****
Hari-hari berikutnya mereka terus makan bersama setelah pulang
sekolah. Dan lucunya mereka tak pernah berjanji untuk pulang bersama, namun
selalu bertemu di angkot yang sama.
Sebelumnya walaupun mereka bertetangga dan satu sekolah,
mereka tidak pernah bertemu sekalipun di dalam angkot yang sama. Mungkin karena
yang satu betah di sekolah yang satu lagi betah di rumah.
Mereka berdua menjadi lebih sering bertemu dan mengobrol. Tapi
setelah tahlilan nenek Irham selesai, Irham kembali sibuk dengan aktivitasnya
sebagai ketua osis. Dan Sheila tetap sibuk dengan dunianya sendiri.
Irham ya memang Irham, si anak teladan yang tidak akan goyah
karena apa pun. Selalu bersikap dewasa dan tegar di setiap langkahnya, juga
dengan sikap percaya dirinya yang mengagumkan. Tanpa disadarinya Sheila jadi
semakin memperhatikan Irham. Mulai dari jam berangkat sekolahnya, risol yang
selalu dibelinya di kantin, caranya menendang bola saat bermain sepakbola,
bahkan cara Irham menyebutkan huruf S saat memanggil namanya. Sheila sampai hafal
semuanya. Sepertinya Sheila mulai menyukai Irham. Tapi Sheila menutupi rasa
penasarannya itu dan bersikap biasa saja saat bertemu Irham. Ia tidak mau
membuat Irham terbebani karena perasaan sepihaknya. Walau terkadang kupu-kupunya
masih tetap beterbangan saat Irham tersenyum.
****
Lebih dari satu bulan Sheila lewati dengan terus
memperhatikan Irham, ia menjadi salah satu dari sekian banyak perempuan yang juga
menyukai Irham. Tapi menjadi salah satu yang beruntung karena bisa bertegur sapa
dengan Irham. Sheila sudah benar-benar menjadi anggota fans club Irham.
"Assalamualaikum" ucap seseorang
sembari mengetuk pintu rumah Sheila.
Sheila keluar dari kamarnya dan melihat sekeliling rumahnya,
dia merasa ada sesuatu yang hilang.
"Assalamualaikum"
Sheila sampai lupa di luar ada yang mengucap salam, Sheila
membukakan pintu – itu Irham. Hemm sekarang Sheila hanya pakai piyama dan dia
belum mandi dari pagi karena hari ini hari libur.
"Waalaikumsalam".
"Sheila ada
ayah kamu ga?"
"Ada lagi mandi"
"Mmmh, yaudah bilangin
aja habis magrib ada riungan di rumah Irham gitu ya"
"Mmm iya"
Sebenarnya Sheila tidak terlalu mendengarkan, ia hanya fokus
memperhatikan.
"Yaudah gitu
aja"
"Eh habis
magrib ya tadi"
"Iyaah"
ucap Irham "makasih ya"
Irham
tersenyum manis – Sheila otomatis tersenyum. Kemudian Irham pergi.
"Siapa?"
Ucap ayah membuyarkan awan-awan pink yang ada di sekitaran mata Sheila.
"Irham..
katanya riungan habis magrib di rumahnya"
"Ooh 40
harinya ya"
Sheila baru ingat, ini sudah 40 hari sejak nenek Irham
meninggal. Pantas saja Sheila merasa di rumahnya seperti ada yg kurang,
ternyata Ibunya tidak ada di rumah, karena pasti ibunya sedang di rumah Irham.
Ditinggalkan ibunya sebentar saja Sheila sudah merasa ada yang kurang, apalagi
Irham yang ditinggalkan neneknya untuk selamanya.
Esoknya Sheila pergi ke rumah Irham, mengambil termos yang
semalam dilupakan ibunya. Sheila mengetuk pintu rumah Irham yang sebenarnya
sudah terbuka lebar, ini bentuk sopan santun mungkin. Karena tak ada yg
menjawab, Sheila masuk ke dalam rumah Irham. Tak ada orang dirumah Irham, tapi
pintunya terbuka lebar.
Yaaaa memang seperti ini kalau habis riungan, berantakan. Sheila
menuju dapur, mencari termos biru yang bergambar bunga berwarna putih dengan tutup
termos yang sedikit bulat – itu pesan ibu sebelum Sheila berangkat. Sheila
menemukannya, termos itu ada di dekat pintu belakang.
Saat Sheila
mengambil termos, ia melihat seseorang di belakang rumah sedang duduk sambil
menunduk menenggelamkan kepalanya. Sheila takut tapi dia penasaran, siapa yang
ada di sana. Sheila mendekatinya dan mencoba membangunkan.
Itu ternyata Irham,
tapi bukan Irham yang selama ini ia lihat. Dia terlihat lelah dengan mata yang
merah dan sembab, sepertinya habis menangis lalu tertidur.
"Ah maaf aku
ga denger kamu datang" ucapnya terdengar lelah "mau ngapain?"
"Hmm.. ini mau
ngambil termos"
Menunjukkan termos yang tadi sudah ia temukan.
"Berat ga? Mau
di bawain?"
"Ngga usah,
ini udah kosong jadi ga berat"
"Ooh yaudah"
ucap Irham kemudian tersenyum.
Irham
mengantar Sheila ke depan rumahnya.
"Maaf ya ga
dianterin termosnya"
"Iya gpp lah..
lagian pasti capek kalo habis riungan gini" ucap Sheila.
Sheila melihat rambut Irham yang berantakan, tanpa
disadarinya Sheila sedikit merapikan rambut Irham.
"Tuh kan
rambutnya sampe acak-acakan begini".
Irham jadi terdiam, dan Sheila belum menyadari perbuatannya.
Sekarang Sheila bahkan mempuk-puk kepala Irham.
"Istirahat ham
jangan kecapean, besok itu senin kita seko__lah".
Sheila baru tersadar dengan apa yang diperbuatnya. Sheila
menyesali perbuatannya, yang dia lakukan tadi adalah ‘sindrom manusia yang
punya banyak keponakan’.
Dia meminta maaf, kemudian menarik lengannya. Tapi Irham menahannya
dan membiarkan lengan Sheila tetap berada di pucuk kepalanya. "Gapapa kaya
gini"
Sheila yang tadi terkejut mulai menggerakkan tangannya lagi,
mengusap-usap pucuk kepala Irham. Sheila menyukainya, tapi ia terus berdoa semoga
tidak ada orang yang lewat.
Sheila tak jadi pulang ke rumah, ia jadi tidak tega
meninggalkan Irham sendirian. Nanti saja pulangnya setelah kakek Irham datang.
Mereka duduk di dalam ruang tamu. Irham terus diam, membuat
Sheila bingung harus bicara apa. Sampai Sheila menyadari Irham terlihat lelah.
"Kalo cape
tidur aja ham"
"Nanti
kamu?"
"Ya
pulang" Sheila tertawa. "Bercanda ham"
"Yaudah aku
tiduran, gapapa ya?" Tanya Irham akhirnya.
"Iyaa"
Walaupun Sheila terkesan santai, tapi sebenarnya jantungnya
terus berdetak kencang. Hatinya tak bisa dikontrol dengan benar kalau menyangkut
soal Irham. Ia juga takut kupu-kupu di dalam perutnya bisa terbang kapan saja.
"Kamu ga jadi
pulang?"
"Ngusir nih
ceritanya"
"Bukaan"
Irham tertawa ringan, lalu menarik lengan Sheila dan
membiarkan telapak tangan Sheila menutupi matanya.
"Kalo ga jadi pulang
dipinjem dulu tangannya"
Sheila yang sedari tadi menahan rasa penasarannya karena
menjaga privasi Irham, akhirnya dibuat kalah dan bertanya pada Irham. Ini salah
Irham!
"Kamu gapapa
ham?". Akhirnya Sheila bertanya.
Tapi ia tak terlalu berharap Irham menjawab pertanyaan itu.
Ilham diam sejenak. "Nenek udah ga ada sekarang, terus
Irham harus ngadu ke siapa?".
Bibir Irham terlihat bergetar saat mengatakan itu. Sheila
merasa bersalah sudah membuat Irham sedih.
"Cuma nenek
yang dengerin Irham, cuma nenek yang ngertiin Irham. Tapi sekarang nenek ga
ada. Irham harus gimana?"
Air mata Irham keluar, hangat. Air mata Irham mengenai
telapak tangan Sheila, yang mengalir dari sudut matanya.
"Kenapa sih
Irham? Padahal Irham ga minta buat dilahirin. Irham juga mau kaya yang lain,
punya keluarga yang sayang dan ada terus buat Irham. Gak ninggalin Irham."
Kali ini air mata Irham mengalir deras, membuat Sheila ikut
menangis. Tangisan mereka memang tak terdengar, tapi air mata cukup mewakilkan
kesedihan mereka.
Sheila tak menyangka akan melihat sisi rapuh Irham. Selama
ini ia selalu menganggap Irham adalah pohon kokoh yang tak akan tumbang, tapi
ia tak sadar bahwa pohon yang kokoh juga bisa saja tumbang jika yang menghantamnya
Rasengan milik Naruto.
Irham mengangkat
telapak tangan Sheila dari wajahnya – mengintip Sheila yang terdiam. Dia tidak
tahu Sheila menangis.
"Ko kamu juga
nangis sih la?"
"Soalnya
Seediiih" Sheila mengeluarkan suara tangisnya yang sengaja tadi ia tahan.
Sheila menangis tapi Irham tersenyum melihatnya. Irham menenangkan Sheila yang
menangis hingga sesenggukan.
"Udah ya cep
cep cep" ucapnya sambil mengpuk-puk pucuk kepala Sheila.
"Cep cep..
emangnya aku anak kecil" ucap sheila sambil menangis.
"Kamu
nangisnya kayak anak kecil"
"Gara-gara
kamu"
"iya
maaf"
Sheila menyeka air matanya, juga menyeka air mata di mata Irham dengan
lengannya.
"Tuh kan
mukamu jadi berantakan"
Jiwa manusia yang punya banyak keponakan lebih muda memang
begitu. Sheila sudah sering menyeka air mata ponakannya yang habis menangis.
"Jangan mikir
kamu sekarang sendirian. Masih ada kakek kamu, Pak Rt, Pak Ustaz Ahmad, Abah H.
Mali, Bu Nisa wali kelas kamu, ibu aku, masih banyak ham yang sayang sama kamu.
Aku juga ada, kita bisa nangis bareng-bareng".
Irham tersenyum mendengar perkataan Sheila. Dia merasa
terhibur dengan perkataan Sheila.
"Aku kasih tau
ya kamu tuh kaya aurora, aurora itu ada di bumi karena kesalahan. Tapi kamu tau
kan aurora itu cantik, indah, spesial, baguus banget, banyak yang suka, banyak
juga yang nungguin munculnya aurora. Sama tuh kaya kamu kerennya, jadi kamu
jangan mikir yang ngga-ngga ya!".
Irham mengangguk menyetujuinya. Sheila tersenyum melihatnya
– merasa bangga dengan apa yang ia katakan. Padahal ia dapat kata-kata itu dari
salah satu drama Korea yang ditontonnya.
"La aku
anterin pulang yuk?". Ucap Irham tiba-tiba
"Eh Ayoo".
Sheila segera berdiri lalu menunggu Irham di depan rumah. Tak
lama, kakek Irham datang bersama dengan Bi Asih, bibinya Irham. Mungkin mau membantu
membereskan rumah Irham.
"Assalamualaikum
bah" ucap Sheila lalu mencium punggung tangan abah, kakek Irham.
"Waalaikumsalam,
Sheila kok diluar? Si Irham emang ga ada di dalem?"
"Ada bah"
"Terus Mau
ngapain?"
"Ini Sheila
disuruh ngambil termos sama ibu, kelupaan katanya semalem"
Irham keluar dari rumahnya, membawa kantung kresek hitam.
"Ooh, ini kamu
mau kemana?" Tanya abah pada Irham
"Mau nganterin
Sheila pulang, sekalian mau bilang makasih ke bu Dewi"
"Oh yaudah,
hati-hati ya. Bilang makasih juga dari abah ya".
Mereka berdua pamit menuju rumah Sheila.
"Sini". Irham
mengambil termos yang dibawa oleh Sheila.
"aku aja yang
bawa" Irham tersenyum, otomatis membuat kupu-kupu di dalam perut Sheila
beterbangan.
Akhirnya Irham yang
membawa termos itu sampai rumah Sheila. Mereka berdua jalan beriringan menuju
rumah Sheila.
Saat di rumah, ternyata ibu dan ayah sheila sedang tidak
ada. Akhirnya Irham menyampaikan terima kasihnya lewat Sheila dan juga
menyerahkan bungkusan yang ia bawa tadi pada Sheila. Sheila menebak, isinya
pasti kue.
"Makasih
kuenya.. makasih juga udah dianter"
Irham tersenyum dan
mengangguk.
"La kamu termasuk
yang suka aurora juga ga?"
"Eh? Mmm suka".
Sheila benar-benar tidak mengerti.
Irham tersenyum.
"Aku pulang
ya.. daah"
Saat itu Sheila belum mengerti apa maksud dari pertanyaan Irham.
Tapi hari-hari setelahnya, Irham menunjukkan sikap yang berbeda. Irham menjadi
lebih perhatian dan juga terbuka pada Sheila. Sheila jadi berpikir pertanyaan Irham
waktu itu menjadi lebih menjurus menuju hal yang Sheila inginkan.
Selesai^.^
Komentar
Posting Komentar