Ah lagi-lagi orang itu, dia selalu
menarik perhatian. Orang itu, namanya Melati. Yang gua tahu
dia anak kelas sebelah dan kita seangkatan, makanya kita ketemu terus. Ga waras kali ya gua! Kenapa orang itu
yang selalu gua liat.
Mungkin semenjak hari itu, dia jadi orang pertama yang gua
liat dan gua cari kalo lagi ada acara disekolah. Gua inget hari itu
kemoceng kotor jatuh ke atas kepala gua. Itu hari Jum’at dan gua udah wudhu
buat jum’atan di Masjid samping Sekolah.
"Eh maaf" ucap melati menyesal.
Melati turun dari kursi
yang dinaikinya untuk menjangkau bagian atas jendela yang sedang ia bersihkan.
"Maaf banget, ga papa kan?"
Melati memeriksa kepala
orang yang menjadi korban dari kecerobohannya.
"Aduh gimana ini rambutnya jadi kotor.. maaf"
ucapnya kemudian mencoba membersihkan debu-debu yang menempel dirambut dengan
tangannya yang juga kotor.
Sebenarnya waktu itu gua kesel, dan pengen banget marahin
dia tapi tiba-tiba dia malah narik gua ke UKS. Dia keliatan panik banget dan
itu karena katanya gua diem aja, padahal gua diem karena gua nahan emosi. Tapi
gua ga habis pikir, kenapa dia bisa menganggap kemoceng yang dia jatohin itu
bisa melukai kepala gua.
"Sakit banget? Pusing ya makanya diem aja.. apa jangan-jangan
kepala lu berdarah?".
Melati panik karena orang
itu diam saja. Akhirnya dia menariknya dan membawanya ke ruang UKS.
Tapi anehnya waktu dia keliatan panik dan langsung narik gua
buat ke UKS, gua ngerasa dia beneran khawatir banget sama gua. Waktu itu gua
sempet mikir apa pura-pura sakit aja ya?. Tapi gua lagi ga bisa pura-pura sakit
karena mau jum’atan. Jadi gua tinggalin dia di depan ruang uks.
Semenjak itu, gua jadi terus kepikiran dia. Gua ga tau
kenapa, setelah liat dia disekolah gua jadi seneng. Dan klo gua ga liat dia
seharian, gua ngerasa ada yang kurang dihari itu. Apa dia ke dukun ya buat
guna-guna gua, cuma karna gua tinggal di UKS.
Gua bener- bener ga berani ngomong sama dia atau sekedar
nyapa dia. Ga ada alesan juga buat ngobrol, lagian gua takut dia mikir gua suka
sama dia, kalo nanti gua tiba-tiba nyapa duluan. Nanti dia kepedean terus
nempelin gua mulu, semua cewe kan emang gitu. Ribet kalo udah berurusan sama
cewe. Okee gua ga akan berurusan sama dia.
****
Orang itu lagi. Aku takut, semenjak hari itu kayaknya dia
terus liatin aku deh. Semoga aja sih itu cuma perasaanku. Bukannya aku kepedean
atau apa tapi masalahnya aku takut banget, soalnya yang terus perhatiin aku tuh
salah satu anak geng yang terkenal nakal di sekolah.
Namanya Diko, dia salah satu anak geng Amay, geng yang
paling terkenal nakal di Sekolah. Aku sih ga pernah liat langsung dia senakal
apa tapi katanya dia sering bolos, ngerokok, malak juga, terus dia pernah
diskors gara-gara ketahuan berantem sama anak SMA lain. Ada lagi, katanya dia
juga f*ckboy. Tapi ya emang sih dia kan lumayan cakep walaupun bandel, jadi dia
tuh sejenis bad boy-bad boy di wattpad gitu. Apalagi dia juga anak pengusaha
yang jadi sponsor SMA ini, udah cocok banget deh dia jadi bad boy. Sayangnya aku
takut sama dia walaupun tampang dia lumayan.
Huh nyesel banget, harusnya aku cari tahu muka-muka anak
geng Amay. Waktu itu kalau aja aku tau itu Diko, pasti aku ga akan bawa dia ke UKS.
Dia beneran marah gara-gara aku tarik ke UKS kali ya atau gara-gara kejatohan
kemoceng? Emang harusnya hari itu aku ga bersihin jendela. Atau harusnya aku ga
sekolah hari itu, nyesel banget akutuh.
"Maaf.. maaf banget sumpah ga sengaja". Melati
terus meminta maaf sembari membersihkan debu-debu yang menempel dirambut korbannya.
"Tadi tuh sumpah kemocengnya lepas gitu aja dari tangan..
maaf yaa".
Melati melihat korbannya
diam saja sedari tadi. Dia mulai berpikiran yang aneh-aneh, seperti kepalanya
bermasalah, dan apa memang sesakit itu atau mungkin berdarah?
"Sakit banget? Pusing ya makanya diem aja.. apa kepala
lu berdarah?".
Melati panik karena orang
itu diam saja. karena yang terlintas dalam pikirannya hanya UKS jadi akhirnya
Melati menariknya dan membawanya pergi ke ruang UKS. Tapi setelah sampai ruang UKS,
korbannya itu melepaskan genggaman tangan melati. Dia langsung pergi saja,
meninggalkan melati yang masih panik.
"Lepasin gua!"
Padahal Melati panik
setengah mati padanya tapi sepertinya dia sangat marah, makanya dia seperti itu.
Hingga akhirnya dia baru tahu bahwa korbannya bernama Diko yang merupakan salah
satu anggota geng Amay, geng anak-anak nakal disekolahnya yang selalu ingin ia
hindari.
****
Setiap kali mereka berpapasan, mereka seperti tidak peduli
satu sama lain. Padahal setelahnya mereka saling memikirkan satu sama lain,
walau dengan sudut pandang yang berbeda. Kejadian di hari itu memang hanya
sebentar, tetapi sepertinya keduanya belum bisa melupakannya. Mereka menyimpan
kenangan yang ingin mereka simpan di dalam pikiran masing-masing. Mungkin itu
sebabnya mereka nantinya akan mengkhawatirkan satu sama lain.
Seperti saat mereka tidak sengaja makan di satu meja yang
sama. Dipaksa duduk berhadapan meski sebelumnya selalu menghindari potensi
saling tatap.
Canggung, itu yang terjadi antara keduanya. Walaupun
berusaha untuk terus berkomunikasi dengan teman masing-masing tetapi
kecanggungan di antara keduanya tetap terasa. Keduanya memiliki ketakutannya
masing-masing, Diko yang takut Melati mengetahui bahwa ia sedang tertarik padanya.
Sedangkan Melati takut jika firasatnya selama ini benar, bahwa Diko memang
marah padanya sehingga Diko terus memperhatikannya.
Karena rasa tidak nyaman itu, Melati jadi tidak bisa menelan
baksonya dengan benar. Melati terbatuk-batuk karena tersedak bakso yang ia
makan. Hal tersebut membuat temannya panik dan dua orang di depannya ikut
memperhatikan, salah satunya Diko.
Saat itu rasanya Melati ingin tidak terlihat siapapun
apalagi oleh Diko. Dia berpikir apakah Diko tahu dia tersedak karena sebenarnya
dia takut padanya sehingga ia tidak bisa makan dengan benar. Kalau dia
ketahuan, selesai sudah masa SMA-nya yang menyenangkan dan damai ini, pikir
Melati.
Teman Melati pergi untuk membeli air mineral. Dia membiarkan
temannya pergi karena memang dia sangat membutuhkan air mineral. Dia harus
minum sekarang kalau tidak dia akan terus diperhatikan Diko dan temannya itu.
Kemudian, Melati melihat seseorang memberikan air mineral
kepadanya. Ah terima kasih malaikat pelindungkuu. Ia hendak berterima
kasih pada orang itu dan menerima air mineral itu dengan senang hati. Tapi
setelah dilihat ternyata itu Diko, dan sekarang ia bingung harus mengambilnya
atau tidak. Kalau dia tidak mengambilnya pasti Diko semakin marah padanya, tapi
Melati takut mengambil air mineral milik Diko.
"Minum" ucap Diko membuat Melati ketakutan.
Melati
yang merasa itu harus segera di minum, akhirnya mengambil air mineral itu karena
takut jika tidak segera ia ambil Diko akan marah.
"Makasih" ucap melati "Nanti diganti
minumnya".
Kalau
saja bukan karena tersedak dia tidak akan mengambil minum itu. Tapi apa Diko sebenarnya
tidak senakal itu?
Baru
saja melati tidak merasa Diko tidak seburuk rumornya, seseorang yang duduk di sampingnya
berdiri dan memarahi Diko.
“Apa-apaan lu, minum gua itu”.
Diko
dengan santainya mengeluarkan uang disakunya dan memberikan uangnya pada orang
itu.
“Nih gua bayar” ucap diko.
Setelah mendengar ucapan Diko orang itu terlihat sangat marah
tetapi temannya menahannya. Aku mendengar sedikit yang dikatakan temannya, bahwa
jangan pernah berurusan dengan Diko. Dan setelah itu mereka berdua pergi dengan
uang yang diberikan Diko.
Melati jadi semakin takut pada Diko, apalagi setelah melihat
orang itu pergi begitu saja setelah temannya memberitahukan bahwa jangan
berurusan dengan Diko. Jangan sampai malah Melati berurusan juga dengan Diko yang
selalu seenaknya. Setelah teman Melati kembali dan membawakan air mineral, Melati
segera memberikannya pada Diko, berterima kasih sekali lagi lalu bergegas pergi
dari sana.
Sementara itu disisi lain, Diko yang masih duduk di sana
sangat menyesali perbuatannya. Apa Melati akan berpikir dia menyukainya karena
dia memberinya minum? Semoga saja tidak. Karena memang tidak ada salahnya
memberikan minum pada seseorang yang sedang tersedak. Bisa saja kan kalau dia
tidak memberikan air itu Melati akan mati. Benar memang seharusnya Melati berterima
kasih sampai dua kali seperti tadi. Diko diam-diam mengangkat sudut bibirnya karena
merasa sudah menolong Melati.
Sampai saat pulang sekolah, Diko masih saja memikirkan Melati,
dia terus mengkhawatirkan Melati. Apa dia sudah membaik? Sudah tidak
batuk-batuk lagi? Karena penasaran apa tanya langsung saja?.
Diko
akhirnya mengurungkan niatnya untuk bertanya, dan memutuskan akan langsung
pulang saja, tapi saat di depan kelas ia malah bertemu dengan Melati.
“Ada sekretarisnya ga?” tanya Melati yang tiba-tiba muncul
di depan kelas Diko.
“Ada” ucap diko.
Tanpa
dicari pun Diko tahu semua anak kelasnya belum pulang. Dia yang selalu pertama keluar
dari kelas untuk pulang.
“Tolong bilangin ke sekretarisnya.. dipanggil sama Bu Mirna.
Bu Mirnanya lagi ada di 11 IPS 2.”.
Diko
hanya mengangguk, tak bicara. Suasananya menjadi agak canggung, menurut Melati
seharusnya Diko menjawabnya dengan bicara.
“Yaudah makasih” ucap Melati ingin segera mengakhiri
pertemuannya dengan Diko. Tetapi Diko yang masih khawatir dengan Melati menahan
Melati pergi. Dia menahan lengan Melati.
“Yang tadi udah ga papa?”
Melati
sedikit terkejut setelah legannya ditahan oleh diko. Melati terkejut juga
bingung, pikirannya tiba-tiba hilang. Dia bahkan sampai lupa kejadian tadi saat
di kantin.
“Ooh maksudnya yang di kantin” ucapnya akhirnya mengerti
maksud perkataan Diko.
“Udah ga papa kok”
“Oh” ucap Diko kemudian masuk ke dalam kelasnya.
Udah
gitu doang? Oh doang? Gak jelas banget. Harusnya lu tuh minta maaf ke gua, gua
kan keselek bakso juga gara-gara lu.
Melati pulang dengan mood yang buruk karena sedikit kesal
pada Diko. Ia tidak mengetahui kebenarannya bahwa diam-diam Diko merasa lega
setelah mendengar kabarnya baik-baik saja. Diko sengaja ke dalam kelas supaya Melati
tidak tahu bahwa sebenarnya ia mengkhawatirkan Melati.
Setelah menyampaikan pesan Melati, ia berjalan menuju gerbang
sekolah. Di luar hujan deras, ia melihat Melati yang sedang berdiri di depan gerbang.
Sepertinya dia sedang menunggu angkot yang menuju rumahnya.
Diko melanjutkan perjalanannya ke parkiran. Ia berjalan di
tengah hujan deras tanpa payung, ia hanya menggunakan kupluk di jaketnya. Diko
berjalan melewati Melati yang sedang menunggu di bawah payungnya.
“Hatcciih”
Itu suara bersin Melati. Diko yang sedikit terkejut dengan
suaranya kemudian menengok ke arah Melati, begitu pula Melati yang juga ikut
menengok ke arah Diko.
Setelahnya, suasana menjadi canggung. Melati yang malu
karena suara bersinnya langsung menunduk, dan Diko yang menjadi canggung akhirnya
langsung melanjutkan perjalanannya menuju parkiran. Sepanjang perjalanan Diko
terus menggerutu dan mengutuk dirinya sendiri.
Diam-diam Diko mengharapkan Melati tidak menemui angkot yang
menuju rumahnya. Karena hari ini ia ingin mengantar Melati pulang ke rumah
dengan selamat. Sedangkan disisi lain, Melati yang sedari tadi menunggu di bawah
payungnya terus saja menggerutu mempertanyakan ke mana perginya angkot-angkot
yang biasanya banyak sekali.
Melati melipat payungnya, karena hujannya sudah mereda. Bajunya
yang sedikit basah terkena cipratan air hujan pun kini mulai membuat Melati gelisah.
Karena itu bisa membuatnya masuk angin nanti, dan itu sangat mengganggu. Ia
berjongkok, kakinya mulai terasa pegal karena sedari tadi berdiri menunggu
angkot yang tak kunjung datang.
Abang angkot.. oh abang angkot,
datanglah ke hadapanku. Aku tidak butuh pangeran berkuda putih sekarang ini,
aku hanya butuh abang angkot. Ku harap ada angkot yang lewat~
Melati melihat motor yang tiba-tiba saja berhenti di depannya.
Ia berdiri dan mendapati Diko yang sedang membuka helmnya.
“Naik, ayo pulang bareng”
Melati sampai tidak percaya dengan apa yang barusan ia
dengar.
“Ga usah, makasih” ucap Melati menolak ajakan Diko.
Dan
sekarang, Diko tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Walaupun terdengar
ramah tetapi Melati tetap menolak ajakannya. Dan ntah kenapa Diko tidak
menyukainya.
“Naik sekarang!”
Melati
kesal, karena sekarang Diko seperti sedang memerintahnya.
“Ngga mau!” ucap Melati kesal.
Melati
kemudian diam, badannya mulai bergetar. Bukan karena mengigil kedinginan, itu
karena ia kesal dan takut pada Diko.
Melihat
Melati yang diam saja dan badannya yang bergetar, Diko turun dari motornya. Ia
membuka jaketnya dan hendak memakaikan jaketnya pada Melati, tapi Melati
menolaknya dengan sedikit menjauh dari Diko. Tapi Diko tetap mencoba memakaikan
jaketnya pada Melati seperti tidak mementingkan pendapat Melati.
“Kenapa sih lu seenaknya kaya gini” ucap Melati kesal “Kan gua
udah bilang ga usah”
“Lu menggigil” balas Diko yang tetap tidak berhasil
memakaikan jaketnya pada melati.
“Ini karena gua takut sama lu”
Diko
terkejut mendengar ucapan Melati. Jadi selama ini Melati takut padanya. Tapi
karena apa?
“Kenapa?” tanya Diko penasaran
“Ya karna lu tuh Diko” jawab Melati khawatir
Diko
melihat Melati, ia menyadarinya ternyata memang benar ia menakutkan dimata Melati,
Melati bahkan tidak berani melihat ke arahnya.
Diko tidak mengerti, mengapa Melati takut padanya. Padahal
ia tidak pernah berbuat jahat pada Melati. Seperti sekarang, niatnya baik tapi
Melati tetap melihatnya menakutkan. Kalau saja Diko mendengar itu dari orang
lain pasti ia akan sangat marah. Tapi saat mendengarnya dari Melati, ia tidak
bisa marah padanya. Bahkan ia masih mengkhawatirkan Melati saat ini.
“Sorry banget kalo lu nganggep gua seenaknya sama lu”
ucapnya “Gua ga akan seenaknya lagi sama lu.. tapi kali ini aja”
Diko
memakaikan jaketnya pada Melati untuk yang ke sekian kalinya.
“Pake ya jaket gua, jangan sampe sakit”
Melati terkejut dengan sikap Diko. Harusnya Diko marah
setelah mendengar ucapannya tadi, tapi dia malah memberikan jaketnya. Melati
jadi tidak enak karena sudah berbicara keterlaluan tadi.
Diko pergi tanpa meninggalkan sepatah katapun lagi. Melati
dibuat bingung karenanya, dia masih tetap diam dengan memegang jaket Diko yang
sebenarnya sudah basah.
****
Melati mendatangi kelas Diko untuk mengembalikan jaketnya,
sebenarnya Melati tidak enak karena sikapnya waktu itu, tapi ia harus mengembalikan
jaket Diko dan meminta maaf padanya.
Diko
menemui Melati. Ia melihat Melati memakai masker, itu membuatnya penasaran.
“Kenapa?” tanya Diko
“Mau balikin jaket” jawab Melati menunjukkan paper bag
berisi jaket.
“Bukan.. masker” ucap Diko meluruskan maksudnya.
“Ooh.. flu” jawab Melati
Diko
mendekati Melati, Melati dengan sigap mundur menjauhi Diko.
“Diem dulu”
Melati
otomatis diam setelah mendengar itu. Tuh kan dia seenaknya lagi.
Diko
kemudian menaruh telapak tangannya ke jidat Melati dan ke jidatnya bergantian,
untuk mengukur suhu tubuh Melati. Itu membuat wajah Melati memerah. Diko
menjadi khawatir, padahal perbuatannya yang membuat wajah Melati memerah, bukan
karena sakitnya.
“Hayu ke UKS” ucap Diko kemudian menarik lengan Melati.
“Aww.. sakit” ucap Melati membuat Diko langsung melepaskan
genggamannya.
“Maaf”
Diko
benar-benar merasa bersalah, harusnya dia tidak lagi membuat Melati ketakutan.
Ternyata ia masih saja berbuat seenaknya pada Melati.
“Gua ga kenapa-kenapa kok, udah minum obat” ucap Melati.
Melati
menjadi jadi tidak enak. Kenapa sih sebenarnya Diko ini? Sikapnya membuat Melati
bingung.
“Ini jaketnya.. makasih ya” ucap Melati “maaf juga yang
waktu itu”
“Ga usah minta maaf.. gua yang salah kok”
Diko
masih merasa bersalah pada Melati, ia terus menunduk.
Melati
dibuat gemas karena Diko masih saja menunduk. Diko bahkan menerima jaketnya dengan
tetap menunduk. Lucu banget ih, jadi pengen jitak.
“Yaudah gua balik ke kelas ya” ucap Melati
“Nanti aja.. belum bel” ucap Diko tidak mau Melati
meninggalkannya.
“Mau ngapain?” tanya Melati, ia tidak menyangka Diko
menahannya pergi.
“Disini dulu aja” ucapnya “Gua juga ga tau kenapa pengen lu
disini”.
“Ini lu lagi nembak gua ya?”
Diko menaikkan pandangannya, ia terkejut mendengar perkataan
Melati. Diko sebenarnya tidak mengerti apa yang selama ini ia rasakan, tapi
kata-kata Melati membuatnya tersadar. Apa benar selama ini dia menyukai Melati?
Diko terlalu takut Melati menyukainya padahal selama ini dia yang lebih dulu menyukai
Melati.
“Kalo iya lu mau?” tanya Diko akhirnya
Melati bingung, dia mulai tertarik pada Diko tapi sebenarnya
dia takut padanya.
“Ngga.. lu kan tau gua takut sama lu”
“Iyaa tau, tapi kenapa lu bisa takut sama gua? Padahal gua
ga pernah nakutin lu, ga pernah jahatin lu, ga pernah juga kan gua nangisin lu”
Melati tersadar, yang dikatakan Diko benar juga. Padahal Diko
tidak pernah berbuat jahat padanya tapi hanya karena cerita dari teman-temannya
yang belum tentu benar, dia jadi takut pada Diko.
“Jangan takut sama gua” ucapnya “Kalo lu takut sama gua, gua
jadi ga bisa deketin lu”
“Gua baru sadar deh sekarang, gua takut sama lu karena
rumor-rumor tentang lu itu”
Ucapan melati membuat Diko lebih mendengarnya. Dia tidak
tahu bahwa rumor buruknya yang selama ini ia abaikan bisa berdampak buruk
padanya.
“Sebenernya gua tuh ga punya alasan buat takut sama lu” ucap
Melati “ah ngga.. ada satu yang bikin gua jadi takut sama lu”
Tiba-tiba Melati teringat kejadian kemoceng waktu itu.
“Apa?” tanya Diko penasaran
“Waktu gua ga sengaja jatohin kemoceng ke kepala lu, terus
kan gua bawa lu ke uks ya.. tapi lu malah bilang ‘lepasin gua’ abis itu
langsung pergi gitu aja”
Padahal
Diko mulai tertarik padanya semenjak itu. Tapi ternyata Melati malah takut
padanya semenjak hari itu.
“Gua jadi takut deh sama lu”
“Gua mau jum’atan waktu itu, makanya langsung pergi” ucap Diko
murung.
“Ooh jadi gara-gara mau jum’atan” ucap melati “Gua kira waktu
itu lu marah, makanya gua ngerasa lu ngeliatin gua mulu. Berasa lagi diteror
tau ga”
Diko
terus merasa bersalah dan semakin menundukkan kepalanya. Sepertinya dia punya
kebiasaan menundukkan kepala saat merasa bersalah, Melati mulai menyadari itu.
“Udah ga papa, sekarang udah ga salah paham lagi guanya”
Melati
mulai menyentuh pucuk kepala Diko.
“Padahal semenjak hari itu gua terus kepikiran lu, tapi gua
ga ngerti sama perasaan gua sendiri” ucapnya “Ternyata gua malah bikin lu makin
takut sama gua”
Melati
mengelus-elus pucuk kepala Diko.
“Ngga ih udaah.. udah selesai kan salah pahamnya” ucap Melati
menenangkan “Jangan nunduk terus”
Diko
menggenggam tangan Melati yang tadi mengelus-elus kepalanya.
“Terus sekarang?” tanya diko yang penuh harap
“Sekarang?”
“Masih takut ga?”
“Engga”
Diko
tersenyum mendengarnya
“Tapi jangan bikin takut lagi”
“Iya ga akan”
Diko
berdiri di samping Melati, ia masih menggenggam tangan Melati sedari tadi. Mungkin
kalau bukan karena ucapan Melati, ia tidak menyadari perasaannya sendiri.
Ternyata dia yang terus memperhatikan Melati, karena selama
ini ia penasaran dengan sosok Melati. Ia ingin lebih mengenal Melati dan
menginginkan Melati menjadi miliknya.
“Kalo nanti gua nembak lu lagi, lu mau ga terima gua?” tanya
Diko
“Ya nanti gua terima” jawab Melati yakin
Diko tersenyum mendengarnya. Melati memang selalu mengatakan
apa yang ingin dikatakannya. Ia selalu jujur pada perasaannya. Diko menyukai Melati
yang seperti itu.
Selesai...
Komentar
Posting Komentar