Langsung ke konten utama

Takut Diko

Ah lagi-lagi orang itu, dia selalu menarik perhatian. Orang itu, namanya Melati. Yang gua tahu dia anak kelas sebelah dan kita seangkatan, makanya kita ketemu terus. Ga waras kali ya gua! Kenapa orang itu yang selalu gua liat.

Mungkin semenjak hari itu, dia jadi orang pertama yang gua liat dan gua cari kalo lagi ada acara disekolah. Gua inget hari itu kemoceng kotor jatuh ke atas kepala gua. Itu hari Jum’at dan gua udah wudhu buat jum’atan di Masjid samping Sekolah.

"Eh maaf" ucap melati menyesal.

Melati turun dari kursi yang dinaikinya untuk menjangkau bagian atas jendela yang sedang ia bersihkan.

"Maaf banget, ga papa kan?"

Melati memeriksa kepala orang yang menjadi korban dari kecerobohannya.

"Aduh gimana ini rambutnya jadi kotor.. maaf" ucapnya kemudian mencoba membersihkan debu-debu yang menempel dirambut dengan tangannya yang juga kotor.

Sebenarnya waktu itu gua kesel, dan pengen banget marahin dia tapi tiba-tiba dia malah narik gua ke UKS. Dia keliatan panik banget dan itu karena katanya gua diem aja, padahal gua diem karena gua nahan emosi. Tapi gua ga habis pikir, kenapa dia bisa menganggap kemoceng yang dia jatohin itu bisa melukai kepala gua.

"Sakit banget? Pusing ya makanya diem aja.. apa jangan-jangan kepala lu berdarah?".

Melati panik karena orang itu diam saja. Akhirnya dia menariknya dan membawanya ke ruang UKS.

Tapi anehnya waktu dia keliatan panik dan langsung narik gua buat ke UKS, gua ngerasa dia beneran khawatir banget sama gua. Waktu itu gua sempet mikir apa pura-pura sakit aja ya?. Tapi gua lagi ga bisa pura-pura sakit karena mau jum’atan. Jadi gua tinggalin dia di depan ruang uks.

Semenjak itu, gua jadi terus kepikiran dia. Gua ga tau kenapa, setelah liat dia disekolah gua jadi seneng. Dan klo gua ga liat dia seharian, gua ngerasa ada yang kurang dihari itu. Apa dia ke dukun ya buat guna-guna gua, cuma karna gua tinggal di UKS.

Gua bener- bener ga berani ngomong sama dia atau sekedar nyapa dia. Ga ada alesan juga buat ngobrol, lagian gua takut dia mikir gua suka sama dia, kalo nanti gua tiba-tiba nyapa duluan. Nanti dia kepedean terus nempelin gua mulu, semua cewe kan emang gitu. Ribet kalo udah berurusan sama cewe. Okee gua ga akan berurusan sama dia.

****

Orang itu lagi. Aku takut, semenjak hari itu kayaknya dia terus liatin aku deh. Semoga aja sih itu cuma perasaanku. Bukannya aku kepedean atau apa tapi masalahnya aku takut banget, soalnya yang terus perhatiin aku tuh salah satu anak geng yang terkenal nakal di sekolah.

Namanya Diko, dia salah satu anak geng Amay, geng yang paling terkenal nakal di Sekolah. Aku sih ga pernah liat langsung dia senakal apa tapi katanya dia sering bolos, ngerokok, malak juga, terus dia pernah diskors gara-gara ketahuan berantem sama anak SMA lain. Ada lagi, katanya dia juga f*ckboy. Tapi ya emang sih dia kan lumayan cakep walaupun bandel, jadi dia tuh sejenis bad boy-bad boy di wattpad gitu. Apalagi dia juga anak pengusaha yang jadi sponsor SMA ini, udah cocok banget deh dia jadi bad boy. Sayangnya aku takut sama dia walaupun tampang dia lumayan.

Huh nyesel banget, harusnya aku cari tahu muka-muka anak geng Amay. Waktu itu kalau aja aku tau itu Diko, pasti aku ga akan bawa dia ke UKS. Dia beneran marah gara-gara aku tarik ke UKS kali ya atau gara-gara kejatohan kemoceng? Emang harusnya hari itu aku ga bersihin jendela. Atau harusnya aku ga sekolah hari itu, nyesel banget akutuh.

"Maaf.. maaf banget sumpah ga sengaja". Melati terus meminta maaf sembari membersihkan debu-debu  yang menempel dirambut korbannya.

"Tadi tuh sumpah kemocengnya lepas gitu aja dari tangan.. maaf yaa".

Melati melihat korbannya diam saja sedari tadi. Dia mulai berpikiran yang aneh-aneh, seperti kepalanya bermasalah, dan apa memang sesakit itu atau mungkin berdarah?

"Sakit banget? Pusing ya makanya diem aja.. apa kepala lu berdarah?".

Melati panik karena orang itu diam saja. karena yang terlintas dalam pikirannya hanya UKS jadi akhirnya Melati menariknya dan membawanya pergi ke ruang UKS. Tapi setelah sampai ruang UKS, korbannya itu melepaskan genggaman tangan melati. Dia langsung pergi saja, meninggalkan melati yang masih panik.

"Lepasin gua!"

Padahal Melati panik setengah mati padanya tapi sepertinya dia sangat marah, makanya dia seperti itu. Hingga akhirnya dia baru tahu bahwa korbannya bernama Diko yang merupakan salah satu anggota geng Amay, geng anak-anak nakal disekolahnya yang selalu ingin ia hindari.

****

Setiap kali mereka berpapasan, mereka seperti tidak peduli satu sama lain. Padahal setelahnya mereka saling memikirkan satu sama lain, walau dengan sudut pandang yang berbeda. Kejadian di hari itu memang hanya sebentar, tetapi sepertinya keduanya belum bisa melupakannya. Mereka menyimpan kenangan yang ingin mereka simpan di dalam pikiran masing-masing. Mungkin itu sebabnya mereka nantinya akan mengkhawatirkan satu sama lain.

Seperti saat mereka tidak sengaja makan di satu meja yang sama. Dipaksa duduk berhadapan meski sebelumnya selalu menghindari potensi saling tatap.

Canggung, itu yang terjadi antara keduanya. Walaupun berusaha untuk terus berkomunikasi dengan teman masing-masing tetapi kecanggungan di antara keduanya tetap terasa. Keduanya memiliki ketakutannya masing-masing, Diko yang takut Melati mengetahui bahwa ia sedang tertarik padanya. Sedangkan Melati takut jika firasatnya selama ini benar, bahwa Diko memang marah padanya sehingga Diko terus memperhatikannya.

Karena rasa tidak nyaman itu, Melati jadi tidak bisa menelan baksonya dengan benar. Melati terbatuk-batuk karena tersedak bakso yang ia makan. Hal tersebut membuat temannya panik dan dua orang di depannya ikut memperhatikan, salah satunya Diko.

Saat itu rasanya Melati ingin tidak terlihat siapapun apalagi oleh Diko. Dia berpikir apakah Diko tahu dia tersedak karena sebenarnya dia takut padanya sehingga ia tidak bisa makan dengan benar. Kalau dia ketahuan, selesai sudah masa SMA-nya yang menyenangkan dan damai ini, pikir Melati.

Teman Melati pergi untuk membeli air mineral. Dia membiarkan temannya pergi karena memang dia sangat membutuhkan air mineral. Dia harus minum sekarang kalau tidak dia akan terus diperhatikan Diko dan temannya itu.

Kemudian, Melati melihat seseorang memberikan air mineral kepadanya. Ah terima kasih malaikat pelindungkuu. Ia hendak berterima kasih pada orang itu dan menerima air mineral itu dengan senang hati. Tapi setelah dilihat ternyata itu Diko, dan sekarang ia bingung harus mengambilnya atau tidak. Kalau dia tidak mengambilnya pasti Diko semakin marah padanya, tapi Melati takut mengambil air mineral milik Diko.

"Minum" ucap Diko membuat Melati ketakutan.

Melati yang merasa itu harus segera di minum, akhirnya mengambil air mineral itu karena takut jika tidak segera ia ambil Diko akan marah.

"Makasih" ucap melati "Nanti diganti minumnya".

Kalau saja bukan karena tersedak dia tidak akan mengambil minum itu. Tapi apa Diko sebenarnya tidak senakal itu?

Baru saja melati tidak merasa Diko tidak seburuk rumornya, seseorang yang duduk di sampingnya berdiri dan memarahi Diko.

“Apa-apaan lu, minum gua itu”.

Diko dengan santainya mengeluarkan uang disakunya dan memberikan uangnya pada orang itu.

“Nih gua bayar” ucap diko.

Setelah mendengar ucapan Diko orang itu terlihat sangat marah tetapi temannya menahannya. Aku mendengar sedikit yang dikatakan temannya, bahwa jangan pernah berurusan dengan Diko. Dan setelah itu mereka berdua pergi dengan uang yang diberikan Diko.

Melati jadi semakin takut pada Diko, apalagi setelah melihat orang itu pergi begitu saja setelah temannya memberitahukan bahwa jangan berurusan dengan Diko. Jangan sampai malah Melati berurusan juga dengan Diko yang selalu seenaknya. Setelah teman Melati kembali dan membawakan air mineral, Melati segera memberikannya pada Diko, berterima kasih sekali lagi lalu bergegas pergi dari sana.

Sementara itu disisi lain, Diko yang masih duduk di sana sangat menyesali perbuatannya. Apa Melati akan berpikir dia menyukainya karena dia memberinya minum? Semoga saja tidak. Karena memang tidak ada salahnya memberikan minum pada seseorang yang sedang tersedak. Bisa saja kan kalau dia tidak memberikan air itu Melati akan mati. Benar memang seharusnya Melati berterima kasih sampai dua kali seperti tadi. Diko diam-diam mengangkat sudut bibirnya karena merasa sudah menolong Melati.

Sampai saat pulang sekolah, Diko masih saja memikirkan Melati, dia terus mengkhawatirkan Melati. Apa dia sudah membaik? Sudah tidak batuk-batuk lagi? Karena penasaran apa tanya langsung saja?.

Diko akhirnya mengurungkan niatnya untuk bertanya, dan memutuskan akan langsung pulang saja, tapi saat di depan kelas ia malah bertemu dengan Melati.

“Ada sekretarisnya ga?” tanya Melati yang tiba-tiba muncul di depan kelas Diko.

“Ada” ucap diko.

Tanpa dicari pun Diko tahu semua anak kelasnya belum pulang. Dia yang selalu pertama keluar dari kelas untuk pulang.

“Tolong bilangin ke sekretarisnya.. dipanggil sama Bu Mirna. Bu Mirnanya lagi ada di 11 IPS 2.”.

Diko hanya mengangguk, tak bicara. Suasananya menjadi agak canggung, menurut Melati seharusnya Diko menjawabnya dengan bicara.

“Yaudah makasih” ucap Melati ingin segera mengakhiri pertemuannya dengan Diko. Tetapi Diko yang masih khawatir dengan Melati menahan Melati pergi. Dia menahan lengan Melati.

“Yang tadi udah ga papa?”

Melati sedikit terkejut setelah legannya ditahan oleh diko. Melati terkejut juga bingung, pikirannya tiba-tiba hilang. Dia bahkan sampai lupa kejadian tadi saat di kantin.

“Ooh maksudnya yang di kantin” ucapnya akhirnya mengerti maksud perkataan Diko.

“Udah ga papa kok”

“Oh” ucap Diko kemudian masuk ke dalam kelasnya.

Udah gitu doang? Oh doang? Gak jelas banget. Harusnya lu tuh minta maaf ke gua, gua kan keselek bakso juga gara-gara lu.

Melati pulang dengan mood yang buruk karena sedikit kesal pada Diko. Ia tidak mengetahui kebenarannya bahwa diam-diam Diko merasa lega setelah mendengar kabarnya baik-baik saja. Diko sengaja ke dalam kelas supaya Melati tidak tahu bahwa sebenarnya ia mengkhawatirkan Melati.

Setelah menyampaikan pesan Melati, ia berjalan menuju gerbang sekolah. Di luar hujan deras, ia melihat Melati yang sedang berdiri di depan gerbang. Sepertinya dia sedang menunggu angkot yang menuju rumahnya.

Diko melanjutkan perjalanannya ke parkiran. Ia berjalan di tengah hujan deras tanpa payung, ia hanya menggunakan kupluk di jaketnya. Diko berjalan melewati Melati yang sedang menunggu di bawah payungnya.

“Hatcciih”

Itu suara bersin Melati. Diko yang sedikit terkejut dengan suaranya kemudian menengok ke arah Melati, begitu pula Melati yang juga ikut menengok ke arah Diko.

Setelahnya, suasana menjadi canggung. Melati yang malu karena suara bersinnya langsung menunduk, dan Diko yang menjadi canggung akhirnya langsung melanjutkan perjalanannya menuju parkiran. Sepanjang perjalanan Diko terus menggerutu dan mengutuk dirinya sendiri.

Diam-diam Diko mengharapkan Melati tidak menemui angkot yang menuju rumahnya. Karena hari ini ia ingin mengantar Melati pulang ke rumah dengan selamat. Sedangkan disisi lain, Melati yang sedari tadi menunggu di bawah payungnya terus saja menggerutu mempertanyakan ke mana perginya angkot-angkot yang biasanya banyak sekali.

Melati melipat payungnya, karena hujannya sudah mereda. Bajunya yang sedikit basah terkena cipratan air hujan pun kini mulai membuat Melati gelisah. Karena itu bisa membuatnya masuk angin nanti, dan itu sangat mengganggu. Ia berjongkok, kakinya mulai terasa pegal karena sedari tadi berdiri menunggu angkot yang tak kunjung datang.

Abang angkot.. oh abang angkot, datanglah ke hadapanku. Aku tidak butuh pangeran berkuda putih sekarang ini, aku hanya butuh abang angkot. Ku harap ada angkot yang lewat~

Melati melihat motor yang tiba-tiba saja berhenti di depannya. Ia berdiri dan mendapati Diko yang sedang membuka helmnya.

“Naik, ayo pulang bareng”

Melati sampai tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.

“Ga usah, makasih” ucap Melati menolak ajakan Diko.

Dan sekarang, Diko tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Walaupun terdengar ramah tetapi Melati tetap menolak ajakannya. Dan ntah kenapa Diko tidak menyukainya.

“Naik sekarang!”

Melati kesal, karena sekarang Diko seperti sedang memerintahnya.

“Ngga mau!” ucap Melati kesal.

Melati kemudian diam, badannya mulai bergetar. Bukan karena mengigil kedinginan, itu karena ia kesal dan takut pada Diko.

Melihat Melati yang diam saja dan badannya yang bergetar, Diko turun dari motornya. Ia membuka jaketnya dan hendak memakaikan jaketnya pada Melati, tapi Melati menolaknya dengan sedikit menjauh dari Diko. Tapi Diko tetap mencoba memakaikan jaketnya pada Melati seperti tidak mementingkan pendapat Melati.

“Kenapa sih lu seenaknya kaya gini” ucap Melati kesal “Kan gua udah bilang ga usah”

“Lu menggigil” balas Diko yang tetap tidak berhasil memakaikan jaketnya pada melati.

“Ini karena gua takut sama lu”

Diko terkejut mendengar ucapan Melati. Jadi selama ini Melati takut padanya. Tapi karena apa?

“Kenapa?” tanya Diko penasaran

“Ya karna lu tuh Diko” jawab Melati khawatir

Diko melihat Melati, ia menyadarinya ternyata memang benar ia menakutkan dimata Melati, Melati bahkan tidak berani melihat ke arahnya.

Diko tidak mengerti, mengapa Melati takut padanya. Padahal ia tidak pernah berbuat jahat pada Melati. Seperti sekarang, niatnya baik tapi Melati tetap melihatnya menakutkan. Kalau saja Diko mendengar itu dari orang lain pasti ia akan sangat marah. Tapi saat mendengarnya dari Melati, ia tidak bisa marah padanya. Bahkan ia masih mengkhawatirkan Melati saat ini.

“Sorry banget kalo lu nganggep gua seenaknya sama lu” ucapnya “Gua ga akan seenaknya lagi sama lu.. tapi kali ini aja”

Diko memakaikan jaketnya pada Melati untuk yang ke sekian kalinya.

“Pake ya jaket gua, jangan sampe sakit”

Melati terkejut dengan sikap Diko. Harusnya Diko marah setelah mendengar ucapannya tadi, tapi dia malah memberikan jaketnya. Melati jadi tidak enak karena sudah berbicara keterlaluan tadi.

Diko pergi tanpa meninggalkan sepatah katapun lagi. Melati dibuat bingung karenanya, dia masih tetap diam dengan memegang jaket Diko yang sebenarnya sudah basah.

****

Melati mendatangi kelas Diko untuk mengembalikan jaketnya, sebenarnya Melati tidak enak karena sikapnya waktu itu, tapi ia harus mengembalikan jaket Diko dan meminta maaf padanya.

Diko menemui Melati. Ia melihat Melati memakai masker, itu membuatnya penasaran.

“Kenapa?” tanya Diko

“Mau balikin jaket” jawab Melati menunjukkan paper bag berisi jaket.

“Bukan.. masker” ucap Diko meluruskan maksudnya.

“Ooh.. flu” jawab Melati

Diko mendekati Melati, Melati dengan sigap mundur menjauhi Diko.

“Diem dulu”

Melati otomatis diam setelah mendengar itu. Tuh kan dia seenaknya lagi.

Diko kemudian menaruh telapak tangannya ke jidat Melati dan ke jidatnya bergantian, untuk mengukur suhu tubuh Melati. Itu membuat wajah Melati memerah. Diko menjadi khawatir, padahal perbuatannya yang membuat wajah Melati memerah, bukan karena sakitnya.

“Hayu ke UKS” ucap Diko kemudian menarik lengan Melati.

“Aww.. sakit” ucap Melati membuat Diko langsung melepaskan genggamannya.

“Maaf”

Diko benar-benar merasa bersalah, harusnya dia tidak lagi membuat Melati ketakutan. Ternyata ia masih saja berbuat seenaknya pada Melati.

“Gua ga kenapa-kenapa kok, udah minum obat” ucap Melati.

Melati menjadi jadi tidak enak. Kenapa sih sebenarnya Diko ini? Sikapnya membuat Melati bingung.

“Ini jaketnya.. makasih ya” ucap Melati “maaf juga yang waktu itu”

“Ga usah minta maaf.. gua yang salah kok”

Diko masih merasa bersalah pada Melati, ia terus menunduk.

Melati dibuat gemas karena Diko masih saja menunduk. Diko bahkan menerima jaketnya dengan tetap menunduk. Lucu banget ih, jadi pengen jitak.

“Yaudah gua balik ke kelas ya” ucap Melati

“Nanti aja.. belum bel” ucap Diko tidak mau Melati meninggalkannya.

“Mau ngapain?” tanya Melati, ia tidak menyangka Diko menahannya pergi.

“Disini dulu aja” ucapnya “Gua juga ga tau kenapa pengen lu disini”.

“Ini lu lagi nembak gua ya?”

Diko menaikkan pandangannya, ia terkejut mendengar perkataan Melati. Diko sebenarnya tidak mengerti apa yang selama ini ia rasakan, tapi kata-kata Melati membuatnya tersadar. Apa benar selama ini dia menyukai Melati? Diko terlalu takut Melati menyukainya padahal selama ini dia yang lebih dulu menyukai Melati.

“Kalo iya lu mau?” tanya Diko akhirnya

Melati bingung, dia mulai tertarik pada Diko tapi sebenarnya dia takut padanya.

“Ngga.. lu kan tau gua takut sama lu”

“Iyaa tau, tapi kenapa lu bisa takut sama gua? Padahal gua ga pernah nakutin lu, ga pernah jahatin lu, ga pernah juga kan gua nangisin lu”

Melati tersadar, yang dikatakan Diko benar juga. Padahal Diko tidak pernah berbuat jahat padanya tapi hanya karena cerita dari teman-temannya yang belum tentu benar, dia jadi takut pada Diko.

“Jangan takut sama gua” ucapnya “Kalo lu takut sama gua, gua jadi ga bisa deketin lu”

“Gua baru sadar deh sekarang, gua takut sama lu karena rumor-rumor tentang lu itu”

Ucapan melati membuat Diko lebih mendengarnya. Dia tidak tahu bahwa rumor buruknya yang selama ini ia abaikan bisa berdampak buruk padanya.

“Sebenernya gua tuh ga punya alasan buat takut sama lu” ucap Melati “ah ngga.. ada satu yang bikin gua jadi takut sama lu”

Tiba-tiba Melati teringat kejadian kemoceng waktu itu.

“Apa?” tanya Diko penasaran

“Waktu gua ga sengaja jatohin kemoceng ke kepala lu, terus kan gua bawa lu ke uks ya.. tapi lu malah bilang ‘lepasin gua’ abis itu langsung pergi gitu aja”

Padahal Diko mulai tertarik padanya semenjak itu. Tapi ternyata Melati malah takut padanya semenjak hari itu.

“Gua jadi takut deh sama lu”

“Gua mau jum’atan waktu itu, makanya langsung pergi” ucap Diko murung.

“Ooh jadi gara-gara mau jum’atan” ucap melati “Gua kira waktu itu lu marah, makanya gua ngerasa lu ngeliatin gua mulu. Berasa lagi diteror tau ga”

Diko terus merasa bersalah dan semakin menundukkan kepalanya. Sepertinya dia punya kebiasaan menundukkan kepala saat merasa bersalah, Melati mulai menyadari itu.

“Udah ga papa, sekarang udah ga salah paham lagi guanya”

Melati mulai menyentuh pucuk kepala Diko.

“Padahal semenjak hari itu gua terus kepikiran lu, tapi gua ga ngerti sama perasaan gua sendiri” ucapnya “Ternyata gua malah bikin lu makin takut sama gua”

Melati mengelus-elus pucuk kepala Diko.

“Ngga ih udaah.. udah selesai kan salah pahamnya” ucap Melati menenangkan “Jangan nunduk terus”

Diko menggenggam tangan Melati yang tadi mengelus-elus kepalanya.

“Terus sekarang?” tanya diko yang penuh harap

“Sekarang?”

“Masih takut ga?”

“Engga”

Diko tersenyum mendengarnya

“Tapi jangan bikin takut lagi”

“Iya ga akan”

Diko berdiri di samping Melati, ia masih menggenggam tangan Melati sedari tadi. Mungkin kalau bukan karena ucapan Melati, ia tidak menyadari perasaannya sendiri.

Ternyata dia yang terus memperhatikan Melati, karena selama ini ia penasaran dengan sosok Melati. Ia ingin lebih mengenal Melati dan menginginkan Melati menjadi miliknya.

“Kalo nanti gua nembak lu lagi, lu mau ga terima gua?” tanya Diko

“Ya nanti gua terima” jawab Melati yakin

Diko tersenyum mendengarnya. Melati memang selalu mengatakan apa yang ingin dikatakannya. Ia selalu jujur pada perasaannya. Diko menyukai Melati yang seperti itu.

 

Selesai...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar dari Ngulek

Kalo kalian pikir ini tulisan mengenai tutorial mengulek bumbu kalian bisa melewati ini , karena tulisan ini berisi pengalaman menyenangkan ketika  penulis  sedang menghaluskan bumbu atau mengulek bumbu masakan di dapur. Mengulek itu menggiling (melumatkan) cabai dengan ulek menurut KBBI, tapi kita semua tahu bahwa yang bisa di giling atau dihaluskan dengan ulek itu juga mencakup bumbu-bumbu dapur lainnya, seperti bawang merah, ketumbar, kunyit, kencur, dan sebagainya. Ulek disini berarti alat yang terbuat dari kayu atau batu untuk menggiling (melumatkan) cabai, rempah-rempah dan sebagainya, yang biasa kita kenal dengan cobek.  Oke stop sampai sini  tentang pengertian mengulek, kalian pasti bisa mencarinya sendiri. Kita b alik lagi pada pembahasan diawal, tentang pengalaman menyenangkan ketika sedang mengulek. Jujur saja mengulek merupakan salah satu kegiatan yang menyenangkan bagi saya , karena ketika sedang mengulek kita  bisa bengong tanpa terlihat sedang ben...

Masalah Kecil

Layar ponsel menampilkan wajahnya yang kusut dan sedikit marah. Aku menatap layar, menahan emosi sendiri. “Kamu akhir-akhir ini cuek,” ucapku, menahan nada kesal. “Kayak… aku nggak penting lagi buat kamu.” Dia menunduk sebentar. “Aku… nggak maksud gitu,” jawabnya pelan. Aku menghela napas. “Kamu sibuk kerja, aku ngerti. Tapi aku nggak mau ngerasa sendirian terus. Kamu bikin aku ngerasa dicuekin…” Hening sejenak. Lalu layar ponsel mati. Aku terkejut. Dia menutup panggilan. Hatiku campur aduk antara marah dan cemas. Setelah beberapa menit, dia menelepon lagi. Wajahnya sedikit memerah, matanya tampak sembab, tapi dia mencoba tersenyum. “Maaf… tadi aku… cuma butuh waktu sebentar,” katanya. Suaranya terdengar agak serak, berbeda dari biasanya. Aku menatapnya dengan seksama. “Eh… kamu abis nangis, kan?” tanyaku, setengah tersenyum. Rasa ingin memarahinya hilang. Aku tidak menyangka ia akan menangis hanya karna aku mengatakan ia sedikit berbeda akhir-akhir ini. Dia menunduk, tak b...

Bahagiaku

Jangan berpikir untuk menaruh kebahagiaan pada orang lain, menargetkan seseorang sebagai patokan kebahagiaan dirimu. Seperti halnya 'Aku akan bahagia bila bersama dengannya' atau 'Apa pun yang membuatnya bahagia, itu pula yang membuatku bahagia'. Jangan membiarkannya mengunci kesenangan dirimu, pikirkan bahwa bahagiamu keputusanmu, semua kendalinya ada padamu. Ingin atau tidaknya kamu bahagia, bisa atau tidaknya kamu bahagia, kehendaknya ada padamu. Sederhananya, kamu harus bahagia karena dirimu sendiri yang menginginkannya.