Jam
istirahat untuk isoma adalah saat yang tepat untuk pergi ke perpustakaan. Bukan
untuk membaca buku, melainkan melupakan semua kesuntukan selama di sekolah, yang
biasanya kami sebut dengan istilah 'ngadem'.
Tapi tidak semua sepertiku, banyak juga yang datang untuk meminjam buku, membaca buku, dan
ada juga yang sengaja mengerjakan tugas disini. Sama halnya seperti seseorang
yang selalu kuperhatikan saat datang ke perpustakaan. Mungkin juga karenanya, aku
jadi sering sekali ke perpustakaan.
Namanya
adalah Ezra Danuar, dia bukan termasuk cowo populer di sekolah, tapi menurutku
dia punya semua kriteria untuk menjadi populer. Dia cukup pintar, tampan,
badannya tinggi, dan paling penting dia tipeku. Hanya satu kekurangannya, dia
tidak tahu aku ada di dunia ini.
Setelah mengisi
daftar hadir yang memang wajib diisi, aku dan temanku mengambil buku,
sebenaranya hanya untuk formalitas. Kemudian menuju markas kami atau tempat
favorit kami, yaitu di pojokan dekat dengan pendingin ruangan yang letaknya
sangat strategis untuk 'ngadem'.
Aku
melihat buku yang kuambil di rak dengan asal, tenyata novel 'Hujan' karya Tere Liye. Bisa-bisanya
aku ngambil novel setebal ini. Kemudian Aku melirik buku yang diambil oleh
temanku dan disana tertulis 'Strategi Menghafal Rumus Fisika Dengan Cepat'. Wah benar-benar anak IPS yang budiman.
Aku
membaca halaman pertama novel yang kuambil. Belum juga selesai membaca halaman
itu, aku mendengar percakapan dua orang di depanku yang sepertinya aku kenali.
"Nih ada bukunya, duduk dimana nih zra?"
"Disana tuh deket rak putih" jawab seseorang yang tadi
disebut Zra.
Eh tunggu, maksudnya Ezra? Ezra
Danuar?. Akupun
mendongak untuk memastikan bahwa yang di depanku adalah Ezra yang aku maksud.
Pandangan kita bertemu dan seketika rasanya ulat-ulat yang
ada didalam perutku mendadak berubah menjadi kupu-kupu yang siap untuk terbang
kapanpun dia inginkan.
Aaaaah tampannya, kenapa juga ada
awan-awan berwarna pink di sekitar wajahnya, dia jadi terlihat sangat tampan.
Dia tersenyum? Benarkah? Sungguh?
Apa aku salah liat? Apa aku sungguh dibutakan oleh cinta? Halah lebay banget. Aku menunduk, malu.
"Eh lang.. ga jadi, disini aja"
"Kenapa?"
"Hemm adem" ucapnya terjeda, kemudian duduk di
depanku.
Aku tidak berbohong, Ezra
benar-benar duduk di depanku dan juga menghadap ke arahku. Apakah aku akan di notice olehnya? Semoga saja iya, aku sangat
menantikannya. Akhirnya kamu tahu aku itu hidup Zra.
"Kelas
berapa de?" Ucap temannya tiba-tiba. Itu membuat semua kupu-kupu dalam
perutku pingsan.
Hah? De, ade? dia manggil gue ade? Dia kira gua ade kelasnya? Padahal
jelas-jelas kita seangkatan.
"Eh kelas 11".
"Oh kita seangkatan ternyata".
Iya gue tau, gua tau lu Galang tp lu ga tau gue. Jahat banget emang ya.
Ezra juga, lo jahat karena lo ga tau gue
tapi gue suka lo..
"Iya emang" ucapku kesal.
Harusnya Ezra ga temenan
sama lu Galang.
"Kelas apa?".
Ngomul sekali kamu Galang.
"Ips 3".
"Oh
pantes gua ga tau lu" ucapnya "kelas lu yang deket kantin kan? Klo
kelas kita mah deket perpus".
Kita yang Galang maksud adalah dia dan Ezra, padahal aku sudah tau.
"Iya tau"
"Ko lu tau?" Tanyanya. Astaga pake salah ngomong segala lagi.
"Kan gua sering ke perpus" jawabku sekenanya.
"Berarti lu sering merhatiin gua dong?".
“Yakali".
AKu ini merhatiin Ezra tauuu bukan kamu.
Sembari
membaca lembar pertama yang sedari tadi belum ku selesaikan, aku bisa mendengar
tawa kecil seorang teman yang sedang bahagia melihat temannya sedang lelah
mengontrol pikirannya.
Aku
meminta temanku untuk begeser ke sisi lainnya, tapi dia malah cengengesan
dengan buku yang berjudul 'Strategi Menghafal Rumus Fisika Dengan Cepat' itu
yang dia pakai untuk menutupi wajahnya. Ntah aku harus membenci buku itu atau
temanku.
Sesekali
akupun melirik Ezra, tentu saja tanpa sepengetahuannya. Aku sebal, tapi juga
seneng hehe, karena aku perah sangat menyukainya. Tapi saat aku tau ada salah
satu teman sekelasku yang juga menyukainya, aku jadi berhenti menyukainya. Tapi
karena situasi ini, sepertinya aku akan menyukai Ezra kembali.
Rasanya
kupu-kupu di perutku benar-benar akan terbang kalau begini terus, aku harus
segera pindah dari sini. Aku menutup buku yang sebenarnya kujadikan tameng
penghalangku, hendak pindah kesisi lain temanku, menghindarinya karena sudah
sampai batas puncak kesabaran tapi kemudian...
"Novelnya
seru tuh, kamu udah baca di bagian mana?" Tanya seseorang yang ada dihadapanku.
Iyah Ezra, dia yang Bertanya padaku?
Aaaaah gawat!
Kupu-kupuku sudah terbang, meninggalkanku yang sedang canggung namun sebenarnya
menyukai situasi ini.
Selesai...
Komentar
Posting Komentar