Langsung ke konten utama

Kamu dan Kopi Sachet

 

Seperti sabtu malam biasanya, seseorang dengan vespa metik hitamnya memasuki halaman rumahku. Mengucap salam lalu memberikan bungkusan kresek hitam yang sudah dipastikan itu martabak manis keju, karena itu kesukaanku.

Dia si penikmat kopi sachet buatanku. Si abdi negara yang selalu menyempatkan diri menemuiku dimasa-masa pelatihannya. Si pendiam yang manis namun cerewet jika sudah bersamaku. Si usil yang hanya jahil padaku. Dan si dia yang terus-menerus membuat diriku merasa berharga.

Sudah dua tahun menjalin rasa dengannya. Melewati masa sulit sampai bahagia bersama. Walaupun hampir tiap minggu bertemu, tapi rasanya tak cukup. Apalagi aku dengar dia akan pergi bertugas, tak tahu sampai kapan. Itu rahasia ucapnya, aku tahu tapi pasti akan rindu.

Ini bukan tugas pertamanya sebagai pasukan khusus. Tapi aku selalu takut dia tak kembali dan tak ada lagi dibumi. Bisa-bisa aku yang nanti melupakannya.

“Aku pasti kangen” ucapku menunduk, menandakan ucapan yang benar-benar dari hatiku.

Aku melihatnya tersenyum, kemudian mengelus-elus rambutku. Menenangkan aku yang nampak gelisah karenanya.

Aku menangis memikirkan segala kemungkinan buruk yang seperti tergambar jelas didalam kepalaku. Kenapa rasanya tak ingin melepasmu hari ini? Kembali ya kumohon~~

“Jangan nangis, selesai tugas aku pasti kesini” ucapnya “Nemuin kamu”.

Aku harap kamu menepati kata-katamu, dan temui aku.

Setelah kopi sachet buatanku habis dan malam semakin larut, ia pamit meninggalkanku dengan rasa yang sengaja ia tinggalkan.

Seberat ini ya membiarkannya pergi.

“Daah!..”

Aku melambai padanya, berpikir seharusnya tadi memeluknya sebelum pergi.

Tidak apa, aku akan menunggumu, selama apapun waktu yang dibutuhkan. Asal aku tak mendengar kabar menyeramkan, aku akan selalu menunggu. Dan nanti akan memelukmu.

Aku merindukannya disetiap malamku, cepatlah kembali manusia kesayangan dengan senyum manis itu. Waktuku cepatlah berlalu, aku merindukannya~

Setelah semalam ku tulis harapanku yang ingin cepat bertemu denganmu, motor vespa metik hitammu terparkir didepan rumahku. Aku menyambutmu didepan pintu rumah, sudah kusiapkan juga senyum terbaikku.

Tapi ternyata bukan kau. Bukan kamu yang datang dengan vespa metik hitammu, itu dia kakak tertuamu. Aku duduk disebelah kakakmu, aku harap bukan kabar menyeramkan yang akanku dengar dari kakakmu. Tapi kakakmu meneteskan air mata, aku mulai gelisah.

Ku mohon jangan katakan..

“Fahmi udah ga ada”

Tubuhku bergetar hebat, penglihatanku buram karena air mata memaksa keluar lalu mengalir membasahi pipiku. Aku sangat lemas, bersuarapun tak bisa. Dadaku sesak, sekelilingku kabur. Setelahnya aku tak ingat.

Aku membencimu.. aku benci kamu yang membuatku menangis.

Aku bisa menunggumu sampai kapanpun, tapi kalau kamu tidak ada lalu siapa yang aku tunggu. Kau bilang takkan meninggalkanku, tapi kau tidak lagi bernafas dibumi sekarang. Aku takut aku benar-benar melupakanmu.

Aku menahan air mataku, tidak ingin menangis di hadapanmu yang sudah terbungkus kain putih. Aku tak berani menyentuhmu, karena pasti tidak hangat seperti biasanya dirimu. Aku menjauh, menghindari tetes air mataku yang mulai mengalir menuji dirimu. Tapi akhirnya aku menangis disamping jenazahmu.

Aku sudah tidak bisa lagi bersamamu. Menunggumu disabtu malam, membawakan sesuatu yang sedang aku inginkan. Tak bisa lagi melihatmu meminum habis kopi sachet yang aku buat. Tak bisa lagi menyentuh tanganmu yang selalu hangat.

Aku masih saja mengingatmu setiap kali aku membuatkan kopi sachet untuk orang lain. Tak jarang juga aku menangis, mengingatmu dalam bayang-bayang kopi sachet yang aku buat.

Tapi untuk malam ini aku ingin memperkenalkanmu pada seseorang. Seseorang yang memintaku menjadi miliknya, walau dia tau aku memilikimu.

Dia yang terus mengingatkanku pada hangatnya dirimu. Dia yang sudah membuat duniaku nampak jelas lagi. Dia juga menerima diriku yang hatinya selalu tentangmu.

Sabtu malam kali ini, aku membuatkan kopi sachet yang sama dengan kopi sachet yang selalu aku buatkan untukmu. Ini untuk orang yang berbeda dengan dirimu, tapi dengan kehangatan yang sama denganmu. Aku akan mengizinkannya memiliki diriku yang hatinya masih milikmu.

 

Selesai...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar dari Ngulek

Kalo kalian pikir ini tulisan mengenai tutorial mengulek bumbu kalian bisa melewati ini , karena tulisan ini berisi pengalaman menyenangkan ketika  penulis  sedang menghaluskan bumbu atau mengulek bumbu masakan di dapur. Mengulek itu menggiling (melumatkan) cabai dengan ulek menurut KBBI, tapi kita semua tahu bahwa yang bisa di giling atau dihaluskan dengan ulek itu juga mencakup bumbu-bumbu dapur lainnya, seperti bawang merah, ketumbar, kunyit, kencur, dan sebagainya. Ulek disini berarti alat yang terbuat dari kayu atau batu untuk menggiling (melumatkan) cabai, rempah-rempah dan sebagainya, yang biasa kita kenal dengan cobek.  Oke stop sampai sini  tentang pengertian mengulek, kalian pasti bisa mencarinya sendiri. Kita b alik lagi pada pembahasan diawal, tentang pengalaman menyenangkan ketika sedang mengulek. Jujur saja mengulek merupakan salah satu kegiatan yang menyenangkan bagi saya , karena ketika sedang mengulek kita  bisa bengong tanpa terlihat sedang ben...

Masalah Kecil

Layar ponsel menampilkan wajahnya yang kusut dan sedikit marah. Aku menatap layar, menahan emosi sendiri. “Kamu akhir-akhir ini cuek,” ucapku, menahan nada kesal. “Kayak… aku nggak penting lagi buat kamu.” Dia menunduk sebentar. “Aku… nggak maksud gitu,” jawabnya pelan. Aku menghela napas. “Kamu sibuk kerja, aku ngerti. Tapi aku nggak mau ngerasa sendirian terus. Kamu bikin aku ngerasa dicuekin…” Hening sejenak. Lalu layar ponsel mati. Aku terkejut. Dia menutup panggilan. Hatiku campur aduk antara marah dan cemas. Setelah beberapa menit, dia menelepon lagi. Wajahnya sedikit memerah, matanya tampak sembab, tapi dia mencoba tersenyum. “Maaf… tadi aku… cuma butuh waktu sebentar,” katanya. Suaranya terdengar agak serak, berbeda dari biasanya. Aku menatapnya dengan seksama. “Eh… kamu abis nangis, kan?” tanyaku, setengah tersenyum. Rasa ingin memarahinya hilang. Aku tidak menyangka ia akan menangis hanya karna aku mengatakan ia sedikit berbeda akhir-akhir ini. Dia menunduk, tak b...

Bahagiaku

Jangan berpikir untuk menaruh kebahagiaan pada orang lain, menargetkan seseorang sebagai patokan kebahagiaan dirimu. Seperti halnya 'Aku akan bahagia bila bersama dengannya' atau 'Apa pun yang membuatnya bahagia, itu pula yang membuatku bahagia'. Jangan membiarkannya mengunci kesenangan dirimu, pikirkan bahwa bahagiamu keputusanmu, semua kendalinya ada padamu. Ingin atau tidaknya kamu bahagia, bisa atau tidaknya kamu bahagia, kehendaknya ada padamu. Sederhananya, kamu harus bahagia karena dirimu sendiri yang menginginkannya.